Pria Ini Bayar Karaoke Rp 900 Ribu dengan Uang Palsu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Polri Kombes Victor Simanjuntak, bersama Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Rikwanto. Memberikan keterangan kepada media, perihal penangkap 4 tersangka sindikat peredaran uang palsu. Jakarta, 9 April 2015. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Polri Kombes Victor Simanjuntak, bersama Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Rikwanto. Memberikan keterangan kepada media, perihal penangkap 4 tersangka sindikat peredaran uang palsu. Jakarta, 9 April 2015. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Bandung - Kepolisian Resor Kota Besar Bandung mengungkap jaringan pengedar uang palsu pecahan Rp 100 ribu yang beraksi di wilayah Kota Bandung. Sepak terjang para komplotan ini kandas, saat polisi menciduk mereka ketika berkunjung ke tempat karaoke di daerah Sukajadi Bandung.

    "Kasus tersebut terjadi saat salah satu tersangka membayar karaoke‎ sebesar Rp 900 ribu dengan pecahan Rp 100 ribu yang ternyata palsu. Salah satu tersangka lainnya yaitu Cecep kembali lagi datang lagi ke lokasi karaoke, dan pihak karaoke pun langsung melapor kepada anggota Polsek Sukasari," ujar Kepala Polrestabes Bandung Kombes Pol Angesta Romano Yoyol kepada wartawan, Selasa, 18 Agustus 2015.

    Angesta mengatakan, berdasarkan pengakuan para tersangka, aksi mencetak dan mengedarkan uang palsu tersebut sudah berjalan selama kurang lebih tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut, para tersangka sudah mencetak uang palsu senilai Rp 80 juta.

    "Tersangka Jeri mengakunya sudah tiga bulan membuat uang palsu bersama K dan H (DPO). Total yang dihasilkan selama itu mencapai Rp 80 juta. Tapi kami masih kembangkan karena kuat dugaan mereka beroperasi sejak lama dan mengedarkan ‎lebih dari Rp 80 juta," ucapnya.

    Modus yang dilakukan tersangka dengan cara membuat uang palsu menggunakan kertas duslak yang dicetak menggunakan media printer dan sablon. Angesta mengatakan, cukup sulit untuk membedakan antara uang asli dengan uang hasil cetakan yang diproduksi para tersangka.

    "Mirip dengan uang asli sekitar 70 persen, namun di benang dan hologram itu tebal karena di tempel, itu sekilas perbedaannya," kata dia.

    Adapun, tersangka yang ditangkap polisi bernama Yerema Saputra Sihite als Jeri (38), Encep Sudrajat als cecep (48) dan Asep Eman Sopian (47), mereka diamankan di tiga tempat yang berbeda. Kini polisi masih memburu seorang tersangka lainnya yang berinisal K.

    Ketiganya diancam pasal 244 juncto 245 KUHPIDANA dan UU No 7 tahun 2011 tentang pemalsuan uang dengan ancaman hukuman diatas lima tahun penjara.

    Sementara itu, Jeri salah satu tersangka mengaku sudah tiga bulan membuat uang palsu bersama K dan H. Total yang dihasilkan selama itu mencapai Rp 80 juta. Namun dirinya baru bisa menjual sebanyak 40 juta.

    "Kalau di jual harga dua uang palsu pecahan seratus ribu, seharga seratus ribu rupiah," kata Jeri. Ia pun mengatakan, dalam kurun waktu tiga bulan, dirinya menyebarkan uang palsu tersebut, di Bandung raya dan Jawa Tengah.

    Jeri mengaku dirinya dapat membuat upal tersebut, dari K dan H yang kini menjadi DPO." Kalau untuk produksi dari awal sampai akhir saya belum bisa, saya dalam produksi upal ini hanya untuk menyablon upal saja," kata Jeri

    Sedangkan Encep dan Asep mengaku hanya sebagai pengedar saja. Keduanya mengaku tidak pernah menjual kembali upal tersebut. "Kalau saya mah cuma dipakai dua kali untuk belanja ke pasar," kata Asep

    IQBAL T. LAZUARDI S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?