15 Desa di Indramayu Terancam Rawan Pangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Indramayu - Sebanyak 15 desa di Kabupaten Indramayu dikhawatirkan akan mengalami rawan pangan. Tingginya angka gagal panen padi dan palawija tahun ini menjadi penyebabnya.

    Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian (BKPPP) Kabupaten Indramayu, Warjo, Selasa 18 Agustus 2015 mengungkapkan jika pihaknya saat ini telah mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan di Kabupaten Indramayu. “Sebanyak 45 ton beras telah kami siapkan untuk mengantisipasi kerawanan pangan tersebut,” kata Warjo.

    Adapun 15 desa tersebut, menurut Warjo, tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Indramayu. Di antaranya Desa Tegal Girang di Kecamatan Bangodua, Desa Nunuk di Kecamatan Lelea, Desa Jatisawit di Kecamatan Jatibarang, Desa Arahan Kidul di Kecamatan Arahan, Desa Dermayu di Kecamatan Sindang.

    Selain itu ada pula di Desa Cantigi dan Desa Cantigi Kulon di Kecamatan Cantigi, Desa Cangkok dan Desa Lajer di Kecamatan Tukdana, serta Desa Tenajar Lor, Desa Lemah Ayu, dan Tenajar di Kecamatan Kertasemaya.

    Kerawanan pangan juga dikhawatirkan terjadi di Desa Dukuh Jati di Kecamatan Krangkeng, Desa Dukuh Tengah di Kecamatan Karangampel dan Desa Rambatan Kulon di Kecamatan Lohbener. Adapun untuk distribusinya, menurut Warjo, tergantung pada kebutuhan dan pengajuan dari masing-masing desa tersebut. “Namun untuk saat ini, kekeringan belum sampai mengancam ketahanan pangan,” kata Warjo.

    Wakil Kepala Sub Divisi Bulog Indramayu, Sunarto, mengaku hingga kini belum menerima permintaan beras sebesar 45 ton dari BKPPP. “Namun jika telah diajukan, kami siap untuk segera memenuhinya,” kata Sunarto. Pencairannya pun tidak membutuhkan waktu yang lama. Setelah surat dicek dan memenuhi syarat, langsung bisa dicairkan.

    Namun, lanjut Sunarto, pihaknya tidak bisa secara langsung memenuhi permintaan beras sebanyak keinginan BKPPP yaitu 45 ton. Ini dikarenakan simpanan atau saldo beras terakhir milik BKPPP di Bulog Indramayu hanya sebesar 39,3 ton.

    Kata Sunarto, saat ini BKPPP memiliki simpanan beras sebanyak 33,8 ton pada 2014. Kemudian ada pengajuan penambahan saldo sebesar 5,5 ton per Maret 2015. Namun saldo tersebut akan menurun drastis karena adanya kenaikan harga jual dari Bulog Indramayu. Menurut Sunarto, saldo 39,3 ton itu masih mengacju pada harga Rp 8.049 per kilogram. sedangkan harga baru mencapai Rp 8.790 per kilogram. Itu artinya saldo BKPPP kurang dari 39,3 ton.

    IVANSYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.