Keraton Yogya dan Sejarah Syiar Islam yang Lembut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan orang berebut Gunungan Grebeg dalam Upacara Grebeg menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Gedhe Kauman, Yogyakarta, (24/1). TEMPO/Subekti

    Ratusan orang berebut Gunungan Grebeg dalam Upacara Grebeg menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Gedhe Kauman, Yogyakarta, (24/1). TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Keraton Yogyakarta sudah menanamkan tradisi syiar Islam secara lembut sejak awal berdiri sebagai Kerajaan Mataram Islam.

    "Sejak Sultan Hamengku Buwono I, pendekatan Islam dilakukan dengan lembut ketika mendirikan Masjid Gede Kauman," ujar anggota keluarga Keraton Yogyakarta, Gusti Bendoro Pangeran Hario Prabukusumo, dalam diskusi Edisi Khusus Tempo “Teladan Sultan Hamengku Buwono IX” di Hotel Sheraton, Yogyakarta, Selasa, 18 Agustus 2015.

    Pernyataan Prabukusumo itu merespons pertanyaan dari seorang peserta diskusi asal Universitas Islam Indonesia, Uli. Uli menanyakan bagaimana sebenarnya konsep kerajaan Islam yang dianut Keraton Yogyakarta.

    Prabukusumo menjelaskan, cara ramah mengenalkan Islam itu dilakukan dengan mengajak warga sekitar Keraton, yang kala itu masih menganut kepercayaan animisme dan Hindu, untuk tertarik datang dulu ke Masjid Gede Kauman.

    Caranya, di pintu masuk sisi selatan-utara masjid, Sultan HB I meletakkan dua buah gamelan Kiai dan Nyai Sekati, perangkat yang menjadi cikal bakal perayaan tradisi Sekaten. Gamelan dipilih karena menjadi instrumen “yang dekat” dengan keseharian penganut animisme kala itu.

    "Warga yang saat itu belum memiliki agama, ketika memasuki Masjid Gede, merasa nyaman karena melihat gamelan. Namun mereka juga jadi melihat bangunan masjid," ujar Prabu.

    Setelah melihat bangunan masjid itu, warga mulai bertanya, ada kegiatan apa di dalamnya. Warga mulai bertanya bagaimana cara masuk Islam. Dan Sultan HB I meminta warga menirukan kalimat syahadat sebagai syarat pertama masuk Islam.

    "Islam dikenalkan Keraton dengan cara lembut dan menghargai perbedaan, seperti Sunan Kalijaga mengenalkan Islam dengan mendalang," tuturnya.

    Namun sejarah adanya gamelan di dalam komplek masjid itu rupanya terputus.

    Adik tiri Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Bawono X itu mengaku sampai sekarang tak bisa menghitung berapa banyak surat kaleng berisi kecaman yang dikirim ke Keraton karena masih meletakkan gamelan Kiai dan Nyai Sekati itu di Masjid Gede Kauman.

    "Keraton dituding syirik atau apa pun, padahal gamelan itu memiliki sejarah syiar Islam yang lembut dari Keraton," tuturnya.

    Menurut Prabu, masyarakat yang menuding Keraton sebagai sumber kesyirikan karena menggabungkan tradisi dalam syiar Islam dapat menilik literasi-literasi kuno dalam Museum Keraton Yogyakarta.

    "Manuskrip-manuskrip kuno Keraton 95 persen mengandung syiar Islam, tapi memang tak ada yang memakai unsur kekerasan," ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.