Rumah Masa Kecil Presiden Sukarno Merana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden pertama RI, Sukarno (kiri) didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta, memberikan hormat saat tiba di Jalan Asia Afrika yang menjadi Historical Walk dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 1955. Dok. Museum KAA

    Presiden pertama RI, Sukarno (kiri) didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta, memberikan hormat saat tiba di Jalan Asia Afrika yang menjadi Historical Walk dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 1955. Dok. Museum KAA

    TEMPO.CO, Kediri - Pemerintah menunggu hasil kajian Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala dan tim sejarawan untuk pemulasaraan situs Bung Karno di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Hingga kini, rumah yang menjadi tempat tinggal Bung Karno saat kecil ini masih dikelola swadaya oleh masyarakat.

    Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri Haris Setiawan mengatakan rumah yang menjadi situs Ndalem Pojok di Kecamatan Wates sudah mendapat perhatian pemerintah daerah. Bahkan sejak bulan November 2014 lalu Bupati Kediri Haryanti Sutrisno sudah menerbitkan Surat Keputusan pembentukan tim penelusuran sejarah atas situs tersebut. “Tim ini akan mengkaji sejauh mana nilai historis rumah itu untuk diajukan ke BP3 (Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala) Trowulan,” kata Haris kepada Tempo, Senin 17 Agustus 2015.

    Situs ini kembali menjadi perhatian setelah pagi tadi sejumlah remaja dan pelajar menggelar upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan di tempat itu. Upacara ini menjadi unik lantaran pengelola situs yang juga panitia upacara mewajibkan para peserta membawa hasil bumi dan uang sebagai syarat mengikuti upacara. Hal ini merupakan bentuk pembelajaran tentang cinta tanah air. Remaja dituntut berkorban untuk kepentingan bangsa. Sebab seluruh hasil bumi dan uang yang terkumpul akan disumbangkan kepada fakir miskin.

    Haris mengakui hingga kini pemerintah belum bisa mengucurkan anggaran khusus untuk merawat situs tersebut. Kebijakan anggaran baru bisa dilakukan setelah BP3 Trowulan mengeluarkan surat keputusan atas bangunan tersebut sebagai cagar budaya. “Jadi kita sifatnya menunggu dulu,”katanya.

    Hal yang sama juga dilakukan atas makam pejuang nasional Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri yang hingga kini dibiarkan begitu saja. Lagi-lagi Haris berdalih untuk pemulasaraan tempat itu menunggu hasil kajian sejarah tim yang ditunjuk Bupati.

    Jika nantinya memang makam tersebut terbukti menyimpan jasad Tan Malaka maka pemerintah daerah akan mengupayakan pembangunannya sebagai wisata sejarah. Hingga kini, makam di lereng Gunung Wilis ini hanya dirawat masyarakat setempat yang menganggap Tan Malaka sebagai sesepuh mereka.

    Karena itu Haris sangat mengapresiasi sikap masyarakat termasuk keluarga Soemosewojo, pemilik rumah di Desa Pojok yang hingga kini merawat rumah tersebut dengan dana patungan. Saat ini rumah tersebut dikelola oleh Kushartono, salah satu keturunan Soemosewojo yang diyakini sebagai ayah angkat Bung Karno. Haris mengklaim pihak keluarga tak keberatan suatu saat rumah itu diambil alih pemerintah jika telah terbit keputusan dari BP3 Trowulan.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.