Gunakan Dana Keistimewaan, DIY Akan Tata Titik Nol Kilometer  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karya seni yang dipamerkan para seniman dalam tajuk Outdoor Malioboro Exposition di Titik Nol Kilometer Yogya, Senin (11/6). TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Karya seni yang dipamerkan para seniman dalam tajuk Outdoor Malioboro Exposition di Titik Nol Kilometer Yogya, Senin (11/6). TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.COYogyakarta - Setelah berhasil merevitalisasi Alun-alun Utara, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta akan melanjutkan dengan penataan kawasan Titik Nol Kilometer. “Target revitalisasi utama mulai dari Alun-alun Utara, lanjut ke Titik Nol Kilometer, kemudian terakhir Malioboro,” ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat DIY Didik Purwadi kepada Tempo, Sabtu, 15 Agustus 2015.

    Didik mengatakan penataan Titik Nol Kilometer akan dilakukan bersama Pemerintah Kota Yogyakarta. Revitalisasi Titik Nol Kilometer tersebut serupa dengan proyek revitalisasi Monumen Tugu pada tahun 2012. Penataan difokuskan dengan menggarap kawasan tersebut lebih menonjol dibanding kawasan sekitarnya.

    Misalnya, mengubah bagian permukaan jalan aspal Titik Nol Kilometer dengan batuan alam jenis andesit. Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta adalah pertemuan antara Jalan Malioboro-Ahmad Yani, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Pangurakan, dan Senopati.

    Kepala Dinas Pekerjaan DIY Rani Sjamsinarsi mengatakan lelang untuk proyek revitalisasi Titik Nol Kilometer sudah mendapatkan rekanan dengan nilai total proyek Rp 4,6 miliar yang diambil dari Dana Keistimewaan. Sebelumnya, revitalisasi Alun-alun Utara yang diresmikan Gubernur Sultan Hamengku Buwono X juga menggunakan Dana Keistimewaan sebesar Rp 22 miliar. 

    “Penataan Titik Nol dimulai 21 Agustus sampai Desember tahun 2015,” kata Rani. Anggaran itu hanya diperuntukkan bagi penataan awal Titik Nol yang menitikberatkan pada penggantian batu alam di badan jalan. 

    Sedangkan tahun 2016, pemerintah DIY bakal mengusulkan lagi untuk pembangunan toilet underground di Titik Nol Kilometer seperti yang sudah dibangun di Alun-alun Utara. “Toilet bawah tanah Titik Nol ini akan lebih banyak dan luas dibanding yang di alun-alun,” tuturnya.

    Pantauan Tempo pada situs lelang elektronik Pemerintah Kota Yogyakarta, pelaksanaan revitalisasi Titik Nol Kilometer ini juga turut melibatkan dukungan pengamanan dari Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta. Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Ketertiban telah membentuk tim pengamanan melalui lelang Belanja Jasa Keamanan Pengendalian Kawasan Titik Nol Kilometer untuk periode selama sepuluh bulan dengan nilai anggaran sekitar Rp 436 juta.

    “Program pengendalian keamanan Titik Nol Kilometer ini sudah dijalankan sejak awal tahun ini,” ucap Kepala Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta Nurwidi Hartono.

    Sampai saat ini, kawasan Titik Nol Kilometer masih tampak dipenuhi pedagang kaki lima, asongan, dan kadang ada parkir liar hingga badan jalan, terutama saat akhir pekan. Seorang pedagang di kawasan Alun-alun Utara, Heru Nugroho, meminta pemerintah tak tebang pilih dalam menertibkan pedagang liar di Titik Nol Kilometer yang disinyalir lebih banyak pendatang asal luar DIY itu.

    “Kalau tidak ditertibkan, kami yang sudah tertib di alun-alun yang kena dampak tidak laku jualannya, semua ke Titik Nol,” ujar Heru, yang biasa berjualan cendera mata berupa kaus khas Yogya tersebut.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.