Hadapi Kemarau Panjang, Yogyakarta Antisipasi Gagal Panen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menginstruksikan seluruh kabupaten untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen karena musim kemarau yang akan berlangsung lebih lama. "Semua daerah kami minta memaparkan kondisi dan persiapannya menghadapi kemarau panjang," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat DIY Didik Purwadi kepada Tempo, Kamis, 13 Agustus 2015.

    Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kemarau akan berlangsung sampai November dan bisa berlanjut hingga Desember di daerah tertentu. Antisipasi terjadinya kemarau panjang tersebut, pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar rapat gabungan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah kabupaten kota dengan melibatkan BMKG. "Kelancaran panen padi ini tentu tak bisa dikesampingkan," ujar Didik.

    Setelah Kulon Progo dan Bantul menyatakan status darurat bencana kekeringan, Kabupaten Sleman sudah memasuki kategori musim kemarau yang ekstrem. Data Stasiun Geofisika Yogyakarta menyebutkan sudah lebih dari 60 hari berturut-turut hujan tidak turun di Sleman. Bahkan ada satu kawasan yang selama 74 hari tidak ada hujan.

    Kepala Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta Tony Agus Wijaya mencontohkan Dusun Dolo di Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, sudah 74 hari berturut-turut tidak pernah hujan. Kekeringan ekstrem juga melanda Dusun Beran, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, yang tidak diguyur hujan selama 60 hari. “Ini sudah masuk dalam kategori ekstrim," kata dia.

    Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Perkebunan Kabupaten Sleman Widi Sutikno menyatakan, meskipun dikategorikan kemarau ekstrem, ketersediaan air untuk pertanian masih belum mengkhawatirkan. Selokan Mataram yang mengairi 10 ribu hektare sawah debitnya masih mencukupi.

    Status darurat bencana kekeringan di Bantul dan Kulon Progo telah ditetapkan oleh masing-masing bupati di dua kabupaten tersebut. “Kami sudah darurat kekeringan terhitung sejak Agustus sampai Oktober,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kulon Progo Untung Waluyo kepada Tempo.

    Beberapa kecamatan di Kulon Progo yang sudah mengalami kekeringan antara lain Kalibawang, Samigaluh, Girimulyo, Kokap, Sentolo, Pengasih, serta sebagian Lendah dan Pajangan. Jumlah warga yang terkena dampak kekeringan terdata sebanyak 6.689 kepala keluarga atau 20.928 jiwa.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul memperkirakan masa kekeringan akan mulai terjadi pada pertengahan Agustus nanti. Dampak kekeringan terutama akan dirasakan oleh warga yang tinggal di kawasan perbukitan yang tersebar di Kecamatan Dlingo, Piyungan, Imogiri, Kasihan, Pandak, dan Pundong.

    PRIBADI WICAKSONO | MUH. SYAIFULLAH | PITO AGUSTIN RUDIANA | ADDI MAWAHIBUN IDHOM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.