Pansel KPK Masih Pelajari Transaksi Mencurigakan Capim KPK

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Pansel Pimpinan KPK Destry Damayanti (kedua kanan) bersama anggota Pansel Natalia Subagyo (kiri), Yenti Garnasih (kedua kiri), Supra Wimbarti (kanan) memberikan keterangan pers di sela proses seleksi tahap ketiga calon Pimpinan KPK di Jakarta, 27 Juli 2015. TEMPO/IQBAL ICHSAN

    Ketua Pansel Pimpinan KPK Destry Damayanti (kedua kanan) bersama anggota Pansel Natalia Subagyo (kiri), Yenti Garnasih (kedua kiri), Supra Wimbarti (kanan) memberikan keterangan pers di sela proses seleksi tahap ketiga calon Pimpinan KPK di Jakarta, 27 Juli 2015. TEMPO/IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO, Jakarta -  Transaksi mencurigakan menjadi pertimbangan utama untuk menyeleksi capim (calon pimpinan) KPK.  Menurut juru bicara Panitia Seleksi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Betty Alisyahbana, kecurigaan itu sedang dipelajari karena berkaitan dengan integritas. "Kami masih mempelajari, apakah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak," kata dia saat dihubungi, Jumat, 14 Agustus 2015.

    Saat ditanya apakah transaksi tersebut masih dalam batas kewajaran profesi yang bersangkutan, Betty belum dapat memastikannya. Ia pun menolak menyebutkan capim yang berprofesi apa yang mempunyai transaksi bernilai besar. "Kami masih mempelajarinya," ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Muhammad Yusuf melaporkan ada sepuluh 10 dari 48 peserta seleksi yang lolos tahap tiga memiliki transaksi mencurigakan. Hingga saat ini, peserta yang lolos menjadi 19 orang. Yusuf enggan menjelaskan apakah 10 orang tersebut bagian 19 peserta yang lolos atau tidak.

    Sementara itu, Betty heran atas dugaan 10 orang pemilik transaksi mencurigakan. Menurut dia, dari 19 peserta yang lolos, jumlah pemilik transaksi mencurigakan tidak sampai 10 orang. "Saya belum cek ya, tapi kemungkinan besar tidak sampai 10 orang. Saya juga bingung, itu angka dari mana," ujarnya.

    Adapun 19 peserta yang lolos capim KPK, antara lain:

    1. Ade Maman Suherman (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran Universitas Jenderal Soedirman)
    2. Agus Rahardjo (Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintahan)
    3. Alexander Marwata (Hakim Ad Hoc Tipikor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat)
    4. Brigjen Pol Basaria Panjaitan (Widyaiswara Madya Sespimti Polri)
    5. Budi Santoso (Komisioner Ombudsman)
    6. Chesna Fizetty Anwar (Direktur Kepatuhan Standard Chartered Bank)
    7. Firmansyah TG Satya (Pendiri dan Direktur Intercapita Advisory, Consultant Strategic and Business, Investment Banking, Audit and Governance Risk Management)
    8. Giri Suprapdiono (Direktur Gratifikasi KPK)
    9. Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji (mantan Aspam Kepala Staf Angkatan Darat)
    10. Jimmly Asshiddiqie (Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu)
    11. Johan Budi SP (Pimpinan sementara KPK)
    12. Laode Muhammad Syarif (Lektor Universitas Hasanuddin)
    13. Mohammad Gudono (Ketua Komite Audit UGM dan Direktur Program Studi Magister Akuntansi FEB UGM)
    14. Nina Nurlina Pramono (Direktur Eksekutif Pertamina Foundation)
    15. Saut Situmorang (Staf Ahli Kepala Badan Inteijen Negara)
    16. Sri Harijati (Direktur Perdata Jam Datun Kejaksaan Agung)
    17. Sujanarko (Direktur pada Direktorat Pembinaan Jaringan Kerjasama Antar Komisi dan Instansi KPK)
    18. Surya Tjandra (pengacara publik)
    19. Irjen Pol Yotje Mende (mantan Kapolda Papua)

    DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.