Bagaimana Jadinya Hari 17 Agustus Tanpa Panjat Pohon Pinang?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah peserta saling berusaha dalam menaiki pohon pinang untuk mengambil sejumlah hadiah dalam lomba panjat pinang di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, (17/8). Tempo/Aditia Noviansyah

    Sejumlah peserta saling berusaha dalam menaiki pohon pinang untuk mengambil sejumlah hadiah dalam lomba panjat pinang di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, (17/8). Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Bandung: Semarak peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, warga biasanya menghelat lomba panjat pinang dengan beragam hadiah di lingkaran puncak. Karena pohon pinang kini makin sulit diperoleh dalam jumlah banyak, awi atau bambu gombong menjadi buruan pembeli.    

    Para penjual bambu di sisi Jalan Kiaracondong dekat pintu perlintasan rel kereta api, sepekan ini telah menambah persediaan barangnya hingga dua kali lipat dari biasanya. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2015, permintaan bambu tali untuk tiang bendera di rumah, juga awi gombong untuk panjat pinang melonjak. 

    Biasanya, kata Suryana, salah seorang penjual bambu, awi gombong jarang yang butuh. Kini ia mendatangkan 50 batang bambu seukuran tiang listrik itu dari Sumedang untuk lomba panjat pinang. "Panjang 8-9 meter harga jualnya Rp 200 ribu," kata Suryana, Kamis, 13 Agustus 2015.

    Bambu tali untuk tiang bendera di rumah atau umbul-umbul sepanjang 3 meter dijual Rp 7.500. Sedangkan ukuran 4 meter seharga Rp 10 ribu. 

    Penjual lainnya, Gun Gun mendatangkan batang pohon pinang dari Tasikmalaya. Jumlahnya yang didapat sebanyak 50 batang. "Sekarang makin susah pohon pinangnya," kata dia. Sebanyak 40 batang lebih kini telah dipesan orang, harganya Rp 450 ribu per batang sepanjang 9 meter.

    Walau begitu, ia tetap menyiapkan puluhan batang awi atau bambu gombong sepanjang 8-9 meter. Bambu seukuran tiang listrik itu dipakai sebagai pengganti pohon pinang. Haranya lebih miring separuh dari batang pohon pinang. "Agustus tahun lalu omzetnya sebulan bisa lebih dari Rp 5 juta," ujarnya.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?