Rombak Pimpinan, Begini Sikap PKS terhadap Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hidayat Nur Wahid Kecam Sikap Militer Mesir

    Hidayat Nur Wahid Kecam Sikap Militer Mesir

    TEMPO.CO, Bandung - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) baru saja melakukan musyawarah majelis syura untuk menetapkan beberapa posisi pimpinan partai. Hasil musyawarah yang digelar di Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, 9-10 Agustus 2015, ini menetapkan Salim Segaf Aljufri secara aklamasi sebagai Ketua Majelis Syura PKS menggantikan Hilmi Aminudin.

    Sementara itu, Hidayat Nurwahid, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai calon terkuat menjadi ketua majelis syura, terpilih menjadi wakil ketua. Sedangkan posisi presiden ketua dewan pengurus pusat partai diduduki oleh Muhammad Sohibul Iman menggantikan Anis Matta.

    Kendati struktur diubah, sejumlah petinggi baru partai mengatakan tidak akan mengubah kebijakan dan sikap partai secara besar-besaran. Mereka masih tetap akan melanjutkan sikap politik yang telah dilakukan oleh para pendahulunya.

    Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nurwahid mengatakan, secara prinsip partai tidak akan mengalami perubahan. Termasuk sikap kepada pemerintah Presiden Jokowi, partai bersikap tetap berada di luar kabinet Jokowi.

    "Kami tetap akan berada di luar kabinet. Ini merupakan konsekunsi kami dari awal yang tidak mendukung Pak Jokowi dan Pak JK," ujar Hidayat kepada Tempo setelah musywarah di Hotel Mason Pine, Senin, 10 Agustus 2015.

    Kendati demikian, PKS, ia katakan, akan tetap mendukung kebijakan pemerintah selama kebijakan tersebut positif dan memiliki maslahat bagi masyarakat banyak. "Kami tetap akan berlaku adil. Apabila kebijakan iti baik kami akan katakan baik. Tapi apabila tidak baik kami akan katakan tidak baik dan lakukan koreksi," kata Hidayat.

    Sementara itu, Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman mengatakan, sistem pengelolaan di tubuh PKS sifatnya tidak cut off. Artinya, setiap kepemimpinan yang baru secara garis besar kebijakan partai akan melanjutkan garis politik para pendahulu.

    Menurut dia, tantangan berpolitik saat ini sangat besar. Dengan demikian pimpinan partai harus memutar otak untuk menangkal tantangan yang akan dihadapi. "Berpolitik saat ini tantangan luar biasa. Setiap saat ada tantangan. Karena itu hal penting bagi kami ke depan bagaimana kami terus berimprovisasi dan berinovasi sehingga tantangan baru kita hadapi dengan sebaik-baiknya," kata dia.

    Menurut dia, tantangan paling utama yang dihadapi partai saat ini adalah masalah kader. "Tentu sebagai partai kader, kami tentu yang pertama adalah melakukan konsolidasi internal," ujarnya.

    IQBAL T. LAZUARDI S
    .


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.