Pedagang Subang Keluhkan Seret dan Mahalnya Elpiji 3 Kg

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menurunkan gas 3 kg dari truk saat Operasi pasar (OP) gas elpiji 3 kg di Cimahi, Jawa Barat, 5 Maret 2015. Langkanya gas elpiji 3 kg menyebabkan harga melonjak di pasaran, warga pun menyerbu Operasi pasar (OP) gas elpiji 3 kg yang disebar di tiap kelurahan di Kota Cimahi. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Petugas menurunkan gas 3 kg dari truk saat Operasi pasar (OP) gas elpiji 3 kg di Cimahi, Jawa Barat, 5 Maret 2015. Langkanya gas elpiji 3 kg menyebabkan harga melonjak di pasaran, warga pun menyerbu Operasi pasar (OP) gas elpiji 3 kg yang disebar di tiap kelurahan di Kota Cimahi. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.COSubang - Para konsumen elpiji ukuran 3 kilogram di Subang, Jawa Barat, mengeluhkan ihwal seretnya pasokan dan mahalnya gas bersubsidi tersebut di pasaran. Seorang pedagang gorengan di Kecamatan Cisalak, Asep, kepada Tempo, Senin, 10 Agustus 2015, mengatakan, sudah hampir satu pekan, ia kesusahan mencari elpiji tabung melon tersebut, baik di tingkat pengecer maupun pangkalan.

    "Kalaupun ada, harganya mahal. Setabung saya beli Rp 22-24 ribu," ucap Asep. Hal senada diungkapkan Didin, pedagang bakso dan mi ayam di Kecamatan Tanjungsiang. "Saya malah beli Rp 25 ribu per tabung."

    Padahal mereka mengetahui bahwa sesuai dengan aturan harga eceran tertinggi (HET), harga jual elpiji 3 kg di tingkat pangkalan hanya Rp 16 ribu. "Kok, bisa-bisanya para pemilik pangkalan dan pengecer menjual sampai melampaui batas," ujar Asep sambil menggeleng-gelengkan kepala.

    Direktur Utama PTDuta Bangsa, agen elpiji 3 kg di Subang, Brando Susanto menuturkan terus seretnya pasokan si melon ke konsumen karena kurangnya kuota yang diberikan PT Pertamina (Persero) untuk Subang.

    Saat ini, kata Brandon, pasokan si melon ke Subang maksimal hanya satu juta tabung per bulan. Padahal kebutuhan ideal untuk memenuhi permintaan konsumen di daerah edarnya itu semestinya satu setengah juta tabung.

    "Kalau pihak Pertamina tak bisa memenuhi kebutuhan ideal, minimal bisa melakukan penambahan pasokan 20 persen dari kuota satu juta tabung," ucap Brando menyampaikan usulannya. Dengan solusi seperti itu, ujar dia, kelangkaan bisa diminimalisasi.

    Menurut dia, Pertamina pernah melakukan penambahan kuota 5 persen per bulan. Namun penambahan kuota itu bersifat sementara dan kini sudah dicabut.

    Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswanamigas) Kabupaten Subang Heri Pratikto mengaku, sejauh ini, belum ada keluhan soal seret dan mahalnya harga elpiji 3 kg. "Baik dari konsumen maupun pemerintah daerah," tuturnya.

    Ia menegaskan, jika ada pihak agen atau pemilik pangkalan yang berani menjual si melon di atas HET yang ditetapkan pemerintah, yang bersangkutan bisa ditindak tegas. "Bahkan bisa sampai pencabutan izin," kata Heri.

    Ia menyebutkan pasokan elpiji bersubsidi untuk Kabupaten Subang saat ini sesuai dengan kuota, yakni 1,032 juta tabung. Namun, sepanjang bulan puasa hingga sepuluh hari seusai Lebaran, Pertamina menambah pasokannya hingga satu setengah juta tabung. Sekarang, ucap dia, sudah kembali lagi pada kuota 1,032 juta tabung.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.