Keluarga Akan Serahkan Jenazah Prof Go Ban Hong ke IPB  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Rektorat Kampus Institut Pertanian Bogor Jalan Raya Darmaga, Bogor, Jawa Barat. TEMPO/Subekti

    Gedung Rektorat Kampus Institut Pertanian Bogor Jalan Raya Darmaga, Bogor, Jawa Barat. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COBogor - Setelah dua hari disemayamkan di Rumah Duka Sinar Kasih, jenazah Prof Dr Ir Go Ban Hong rencananya diserahkan pihak keluarga kepada pihak sivitas Institut Pertanian Bogor (IPB) sebelum dikebumikan di Taman Pemakaman San Diego, Karawang, Minggu, 9 Agustus 2015. Go Ban Hong merupakan mantan guru besar ilmu tanah di Institut Pertanian Bogor. 

    "Rencananya, kami, pihak keluarga, akan menyerahkan mendiang kepada pihak sivitas IPB untuk dilakukan upacara penghormatan terakhir sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir," kata Juanda H. Sidabutar, juru bicara keluarga yang juga menantu Go Ban Hong, kepada Tempo, Minggu pagi, 9 Agustus 2015.

    Jenazah akan diserahkan kepada pihak IPB karena Go Ban Hong menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk mengabdi pada dunia pendidikan dan menjadi ahli, bahkan pakar ilmu pertanahan Indonesia, di IPB. "IPB-lah yang membesarkan beliau, dan di IPB-lah beliau mengabdi sebagai dosen, bahkan guru besar ilmu pertahanan, pada ribuan mahasiswa IPB," ucap Juanda.

    Go Ban Hong wafat Rumah Sakit BMC pada Jumat lalu setelah beberapa kali menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Pak Go--panggilan akrabnya--meninggalkan tiga anak (satu laki-laki dan dua perempuan) serta tujuh cucu. "Beliau sempat dilarikan ke ruang ICU karena sempat tidak mau makan, sehingga kondisinya drop," ujar Juanda.

    Menurut Harry Ara Hutabarat, alumnus IPB, dia sangat merasakan arti sebuah pengabdian dan idealisme dari sosok Go Ban Hong. Pak Go, tutur dia, dikenal sebagai sosok yang memiliki idealisme dan konsisten. "Kami, para aktivis Bogor, jika mengundang almarhum harus berpikir keras menyediakan makanan narasumber di luar beras," ucap Harry.

    Harry mengatakan Pak Go memutuskan tidak makan nasi sebelum Indonesia swasembada beras. Hal tersebut bukan sekadar teori. Sampai akhir hayatnya, dia konsisten tidak mengkonsumsi beras. 

    "Ubi-ubian menjadi alternatif makanan pilihan almarhum, dan inilah teladan dosen kami yang menjadi spirit bagi para penggagas konsep dan pembaharuan hidup," ujar Harry.

    M. SIDIK PERMANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.