Perpanjangan Pendaftaran Pilkada Dinilai Cacat Hukum  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana bakal calon kepala daerah yang akan mengikuti Pilkada Serentak, mengisi formulir Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di Gedung KPK, Jakarta, 24 Juli 2015. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Suasana bakal calon kepala daerah yang akan mengikuti Pilkada Serentak, mengisi formulir Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di Gedung KPK, Jakarta, 24 Juli 2015. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titi Anggraini meragukan dasar hukum yang dipakai Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memperpanjang masa pendaftaran pemilihan kepala daerah. Menurut dia, KPU tidak boleh hanya menggunakan rekomendasi Badan Pengawas Pemilu untuk menambah masa pendaftaran bagi daerah yang masih memiliki satu calon. 

    “Jangan sampai ini cuma atas dasar kesepakatan sesama penyelenggara, karena legitimasi hukumnya tak kuat,” kata Titi saat dihubungi Tempo, Jumat, 7 Agustus 2015. "Ini bahaya bagi penyelenggaraan pemilu."

    Menurut Titi, KPU tidak bisa memperpanjang masa pendaftaran hanya dengan rekomendasi itu. Alasannya, tak ada peraturan dalam undang-undang yang mengatur kewenangan Bawaslu untuk mengubah masa pendaftaran. Pada Pasal 8 huruf 3 ayat e Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 disebutkan tugas dan wewenang KPU dalam penyelenggaraan pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota adalah mengenakan sanksi administratif dan/atau menonaktifkan sementara anggota KPU provinsi yang terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan pemilihan berdasarkan rekomendasi Bawaslu dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan.

    “KPU menjalankan rekomendasi Bawaslu hanya jika terjadi pelanggaran pilkada," ucapnya. Sedangkan dalam persoalan daerah yang hanya memiliki calon tunggal untuk pilkada, menurut dia, bukan sebuah pelanggaran. "Kalau ini di mana bentuk pelanggarannya?” ujarnya.

    Ia menilai keputusan KPU itu akan menimbulkan preseden buruk bagi pelaksanaan pilkada. Misalnya, munculnya budaya transaksi politik antar-penyelenggara pemilu di daerah. Nantinya, tutur dia, KPU tingkat provinsi dan kabupaten atau kota akan kerap diintervensi panitia pengawas setempat untuk mengubah tahapan pilkada karena ada lobi dari calon tertentu. “KPU seolah kompromi dengan partai politik,” kata Titi.

    Sebelumnya, KPU menambah masa pendaftaran pilkada bagi tujuh daerah yang hanya memiliki calon tunggal. Langkah itu diambil karena Presiden Joko Widodo menolak mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah menyerahkan kewenangan kepada Bawaslu untuk memberikan rekomendasi kepada KPU. Hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pilkada.

    KPU akan membuka kembali pendaftaran pilkada hanya untuk tujuh daerah pada 9-11 Agustus 2015. Tujuh daerah tersebut adalah Kota Surabaya, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Blitar, Kota Mataram, Kota Samarinda, dan Kabupaten Timor Tengah Utara.

    PUTRI ADITYOWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.