Jumlah Pendaki ke Semeru Dijatah 1.000 Orang per Hari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan tenda yang didirikan para pendaki di kawasan Ranukumbolo, kawasan favorit para pendaki ini dipenuhi para pendaki yang ingin beristirahat. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, 16 Mei 2015. Tempo/Fajar Januarta

    Puluhan tenda yang didirikan para pendaki di kawasan Ranukumbolo, kawasan favorit para pendaki ini dipenuhi para pendaki yang ingin beristirahat. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, 16 Mei 2015. Tempo/Fajar Januarta

    TEMPO.COLumajang - Kuota pendakian ke Gunung Semeru bakal ditambah menjadi seribu orang per hari. Penambahan kuota ini dilakukan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus yang biasanya dilakukan dengan menggelar upacara bendera di kawasan Semeru. 

    Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) Ayu Dewi Utari mengatakan kuota pendakian saat ini adalah 500 orang per hari. "Akan dinaikkan menjadi seribu pendaki per hari," katanya kepada Tempo, Selasa, 4 Agustus 2015.

    Ayu mengatakan pihaknya melalui Bidang Pengelolaan TN BTS Wilayah II Kabupaten Lumajang akan segera menggelar rapat dengan sejumlah instansi terkait untuk membicarakan persiapan peringatan tersebut. "Kuota kemungkinan dilepas sampai seribu sehari, cuma nanti rekomendasi tetap hingga Kalimati," ujar Ayu. 

    Namun upacara disebutnya hanya akan diselenggarakan di tiga titik, yakni Ranupane, Ranu Kumbolo, dan Kalimati. "Kalau ada di Puncak Mahameru berarti liar. Kami saling mengingatkan saja," tuturnya. 

    Ihwal peringatan 17 Agustus, kata Ayu, biasanya yang paling ramai di Ranu Kumbolo, yang bisa menghimpun 500-1.000 orang. Tahun ini, tepat 17 Agustus 2015, dia memperkirakan akan ada 3.000 orang di Semeru. "Ranu Kumbolo bisa sampai 1.500, Ranupane dan Kalimati hanya sedikit," ucapnya. 

    Beberapa tahun belakangan ini, atas rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), puncak Semeru menjadi daerah yang dilarang untuk didaki. Alasannya, aktivitas letusan sewaktu-waktu bisa melontarkan material pijar di kawasan Puncak Mahameru. Potensi letusan ini sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan para pendaki. 

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.