Diboikot Kubu Gus Sholah, Pleno Muktamar NU Lengang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama) membuat barikade di panggung saat pembahasan Tata Tertib Muktamar NU ke 33 di Alun-alun Jombang, Jawa Timur, Minggu malam, 2 Agustus 2015. ANTARA/Zabur Karuru

    Anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama) membuat barikade di panggung saat pembahasan Tata Tertib Muktamar NU ke 33 di Alun-alun Jombang, Jawa Timur, Minggu malam, 2 Agustus 2015. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.COJombang - Arena Muktamar Nahdlatul Ulama di Alun-alun Jombang, Jawa Timur, lengang setelah ditinggal pergi peserta yang mendukung KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Rabu, 5 Agustus 2015. Hingga melewati batas waktu pelaksanaan sidang, hanya beberapa deret bangku yang ditempati muktamirin.

    Berdasarkan pantauan Tempo, suasana sidang pleno yang membahas pemilihan Ketua Umum dan Rais Aam NU terlihat sepi. Kurang dari separuh jumlah kursi yang disediakan panitia untuk delegasi cabang dan wilayah terisi. 

    Panitia terus berusaha membujuk para peserta untuk kembali memasuki ruangan, agar pelaksanaan sidang yang diskors sebelum magrib bisa dilanjutkan. "Mohon para peserta segera masuk ke ruangan untuk mengikuti sidang," kata panitia melalui pengeras suara.

    Akibat minimnya jumlah peserta, jadwal sidang yang seharusnya dimulai pukul 20.00 WIB belum dilanjutkan hingga pukul 21.45. Untuk memenuhi kehadiran peserta, panitia melonggarkan persyaratan masuk ke ruang sidang. "Kalau tidak ada Rais Syuriah, unsur Syuriah saja bisa mewakili dengan menunjukkan id card pada Banser," ucap panitia.

    Belum ada keterangan resmi dari panitia, apakah sidang pleno tersebut dilanjutkan atau tidak. Panitia terus berupaya mencari keberadaan peserta yang mendadak hilang.

    Sebelumnya, kubu Gus Sholah menyatakan tak akan kembali ke arena sidang Muktamar menyusul tindakan panitia dan pimpinan sidang yang dinilai tidak fair dengan tidak memberi kesempatan mereka bicara. Akhirnya, kubu Gus Sholah menyatakan menggelar sidang pleno sendiri di Pondok Pesantren Tebuireng, yang berjarak 5 kilometer dari Alun-alun Jombang. 

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.