Kasus Angeline, ke Mana Duit Sumbangan Mengalir?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak memberikan sumbangan untuk orang tua Angeline, bocah 8 tahun yang dibunuh di belakang rumahnya di depan kamar jenazah Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, 12 Juni 2015. Uang sumbangan yang dikumpulkan akan digunakan untuk biaya pemulangan jenazah Angeline ke Banyuwangi, Jawa Timur. TEMPO/Johannes P. Christo

    Seorang anak memberikan sumbangan untuk orang tua Angeline, bocah 8 tahun yang dibunuh di belakang rumahnya di depan kamar jenazah Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, 12 Juni 2015. Uang sumbangan yang dikumpulkan akan digunakan untuk biaya pemulangan jenazah Angeline ke Banyuwangi, Jawa Timur. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Denpasar - Setelah jenazah Angeline berhasil ditemukan polisi di rumah ibu angkatnya, Margriet Megawe, di Jalan Sedap Malam 26, Sanur, Denpasar, masyarakat yang bersimpati spontan menyumbangkan dana pada kotak yang disediakan.

    Selain memasukkan uang ke kotak amal, ribuan boneka juga diletakkan di depan rumah duka sebagai simbol rasa prihatin yang mendalam, disertai harapan agar boneka-boneka itu menemani arwah Angeline yang malang.

    Setelah terkumpul, ke mana uang dan boneka-boneka itu? Pertanyaan itu kini menggelayut di benak ibu kandung Angeline, Hamidah. Melalui pengacaranya, Siti Sapura, Hamidah sempat mempertanyakan soal uang dan boneka itu kepada Tim Reaksi Cepat Komisi Nasional Perlindungan Anak Naomi Werdisastro.

    “Sebelumnya (uang itu) sempat mau diambil oleh Ibu Hamidah untuk biaya ritual selamatan Angeline. Namun polisi melarang karena Ibu Naomi menyebut dana itu hanya boleh diambil oleh Ibu Naomi sendiri,” kata Sapura.

    Ketika dihubungi Sapura, Naomi membenarkan hal itu. Dia juga menjanjikan bahwa uang sejumlah Rp 30 juta tersebut akan diserahkan kepada Hamidah pada saat peringatan Hari Anak Nasional.

    Menurut Sapura, Naomi memang menepati janjinya. Bersama rombongan Komnas Perlindungan Anak, Naomi datang ke rumah Hamidah di Banyuwangi. Namun uang yang diserahkan ternyata hanya Rp 300 ribu dan boneka yang diberikan hanya beberapa biji saja. “Padahal, warga di kampung sudah menunggu kiriman boneka yang dibilang sampai satu truk itu,” kata Sapura.

    Kepada Sapura, Hamidah mengaku sempat menanyakan soal uang itu ke Naomi ketika bertemu di Banyuwangi. Jawabannya, “Jangankan uang, kantor saya saja terbakar”.  Adapun soal boneka, kabarnya sudah dibagi-bagikan ke panti asuhan di Denpasar.

    Naomi belum bisa dikonfirmasi mengenai hal ini. Ia tidak merespons panggilan Tempo. Pesan pendek yang dikirim pun belum dibalas.

    ROFIQI HASAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.