'Ada Calon Ketua Umum PBNU yang Terlibat Pembunuhan Munir'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suciwati, istri mendiang aktivis HAM Munir Said Thalib, berpose disamping plang jalan Munirpad di Kantor KontraS, Jakarta, 11 April 2015. Pemerintah kota Den Haag di Belanda akan meresmikan jalan Munirpad yang diambil dari nama mendiang Munir.  TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Suciwati, istri mendiang aktivis HAM Munir Said Thalib, berpose disamping plang jalan Munirpad di Kantor KontraS, Jakarta, 11 April 2015. Pemerintah kota Den Haag di Belanda akan meresmikan jalan Munirpad yang diambil dari nama mendiang Munir. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Malang - Istri pejuang hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib, Suciwati, berharap Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) menghasilkan pemimpin yang memperjuangkan HAM. Sebaliknya, ia khawatir jika NU dipimpin pelanggar HAM. "Bangsa Indonesia harus melawan lupa, Asad Said Ali salah satu yang terlibat pembunuhan Munir," kata Suciwati, Rabu, 5 Agustus 2015.

    Belakangan, arena Muktamar NU diramaikan peredaran meme bergambar Asad Ali bertuliskan: "Stop. Ora Pengen Wong NU Diinteli, Ora Pengen Kiai Dikadali, Ora Pengen NU Dikangkangi. Ojo Pilih Asad Ali. (Tak ingin orang NU diawasi intel, tak ingin kiai dibohongi, tak ingin NU dikangkangi. Jangan pilih Asad Ali)”.

    Tak hanya itu. Beredar juga surat Badan Intelijen Negara (BIN) pada Juli 2004 yang ditandatangani Asad Said Ali saat masih menjadi Wakil Kepala BIN. Surat itu ditujukan kepada Direktur Utama Garuda dan berisi permintaan agar pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto, dimasukkan dalam internal sekuriti untuk menangkal bahaya terorisme.

    Berkat surat itulah, Pollycarpus yang merupakan agen rahasia BIN, berhasil memasukkan arsenik ke makanan Munir di pesawat. Munir kemudian meninggal dalam penerbangan dari Singapura menuju Amsterdam, Belanda, 7 September 2004. Belakangan, Pollycarpus dihukum 14 tahun penjara dan bebas bersyarat 24 November 2014. "Soal surat Asad yang lebih tahu tim pencari fakta (TPF)," ujar Suciwati.

    Dalam Muktamar NU di Jombang, tiga tokoh maju menjadi kandidat Ketua Umum Pengurus Besar NU. Mereka adalah Kiai Haji Said Aqil Siraj, Kiai Haji Solahudin Wahid (Gus Sholah), dan Asad Said Ali. Suciwati menilai hanya Said Aqil yang relatif bersih.

    "Meski Gus Sholah pernah menjadi Komisioner Komnas HAM, dia sempat berpasangan dengan Wiranto maju dalam pemilihan presiden 2004," kata Suciwati. Padahal, kata dia, Wiranto sempat diduga terlibat pelanggaran HAM di Timor Timur.

    Suciwati mengaku telah berkirim pesan pendek ke pejabat Rais Aam Kiai Haji Mustofa Bisri dan memohon agar para muktamirin tak melupakan kasus pelanggaran HAM. "Jangan kotori Muktamar NU yang luar biasa ini, agar ke depan NU tetap bersih. Jangan libatkan orang bermasalah," ujar Suci.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.