Kemarau di Riau, Berharap Hujan Turun Malah Gumpalan Es  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas berusaha memadamkan kebakaran lahan yang berada dekat permukiman di Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru, Riau, 24 Juli 2015. Kebakaran terjadi terjadi karena kemarau dan kebiasaan sekelompok masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar. ANTARA/FB Anggoro

    Petugas berusaha memadamkan kebakaran lahan yang berada dekat permukiman di Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru, Riau, 24 Juli 2015. Kebakaran terjadi terjadi karena kemarau dan kebiasaan sekelompok masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO , Pekanbaru:  Kemarin, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang hampir merata terjadi di wilayah Riau, setelah dilanda musim kemarau dua bulan terakhir. Namun ada fenomena tak biasa terjadi di Kabupaten Rokan Hulu, kemarin sore.

    Hujan turun disertai gumpalan es. Hujan es disertai angin kencang mengakibatkan tujuh rumah warga rusak.

    Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadaman Kebakaran Daerah Rokan Hulu, Aceng Herdiana, hujan es membuat masyarakat kebingungan.

    "Berharap hujan turun untuk menghilangkan kabuat asap malah gumpalan es disertai angin kencang," katanya kepada Tempo, Kamis 4 Agustus 2015.

    Menurut Aceng, rata-rata kerusakan terjadi pada genteng rumah yang lepas tertiup angin. Sedangkan dampak gumpalan es sebesar ibu jari itu menyebabkan genteng dan parabola warga jebol. "Namun tidak ada korban jiwa dalam persitiwa itu."

    Aceng mengatakan  petguas BPBD Damkar telah melakukan evakuasi dan secara  bergotong royong bersama warga melakukan perbaikan. "Kami sudah evakuasi semua," ujarnya.

    Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika stasiun Pekanbaru, Slamet Ryadi menuturkan, fenomena hujan es merupakan suatu peristiwa yang tidak bisa diperkirakan dan jarang terjadi. "Sifatnya tidak bisa diprediksi," katanya.

    Slamet menjelaskan, hujan es terjadi lantaran pertumbuhan awan kumolonimbus menjulang cukup tinggi diatas 4000 kaki. Pada ketinggian itu suhu udara sangat dingin sehingga terjadi pembekuan uap air. "Uap air mengkristal karena dingin," ujarnya.

    Menurut Slamet, pembekuan uap air sebenarnya sudah terjadi pada ketinggian 3.500 kaki. Namun hujan es jarang sekali terjadi karena butiran air yang membeku itu terlebih dulu cair setelah bergesekan dengan atmosfir bumi.

    Dalam kasus hujan es ini kata Slamet, diperkirakan uap air yang mengkristal sudah terlalu besar. Saat terjadi hujan, gumpalan es yang cukup besar itu belum cair seutuhnya saat menyentuh bumi "Sehingga terjadilah hujan es," jelasnya.

    Slamet memperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diperkirakan bakal terjadi hingga dua hari kedepan. Hal itu disebabkan adanya kelembaban udara yang cukup basah di Riau.

    Hujan yang melanda Riau dua hari terakhir membuat kualitas udara di Riau membaik. Kabut asap hilang, jarang pandang pun kembali normal.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.