Amplitudo Minimum Tremor Gunung Raung Terus Meningkat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Raung terlihat mengeluarkan abu vulkanik ketika kapal penyebrangan yang mengangkut pemudik  di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, 12 Juli 2015. Pemudik lebih banyak memilih mudik dengan jalur darat laut dikarenakan Gunung Raung terus bererupsi. TEMPO/Johannes P. Christo

    Gunung Raung terlihat mengeluarkan abu vulkanik ketika kapal penyebrangan yang mengangkut pemudik di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, 12 Juli 2015. Pemudik lebih banyak memilih mudik dengan jalur darat laut dikarenakan Gunung Raung terus bererupsi. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Bondowoso - Amplitudo minimum tremor Gunung Raung terus meningkat dalam dua hari terakhir. Laporan aktivitas kegempaan Gunung Raung berdasarkan pengamatan Selasa dinihari, 4 Agustus 2015, antara pukul 00.00 hingga 06.00 WIB menunjukkan bahwa tremor masih menerus di amplitudo 10 hingga 32 (overscale).

    Tremor menerus gunung yang berada di wilayah Kabupaten Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi, Jawa Timur, ini dominan di kisaran amplitudo 30 milimeter. Data pengamatan sebelumnya menunjukkan peningkatan yang drastis sejak 1 Agustus 2015 dari yang semula amplitudo rata-rata 2-32 milimeter dominan di kisaran 22 milimeter meningkat menjadi 6-32 milimeter pada malam harinya dan dominan di kisaran 28 milimeter.

    Keesokan harinya, 2 Agustus 2015, hingga pengamatan sore hari tetap di 6-32 milimeter. Namun untuk amplitudo dominan meningkat dari 28 milimeter menjadi 29 milimeter. Selanjutnya pengamatan pada malam hari menunjukkan amplitudo minimum meningkat menjadi 7-32 milimeter dan dominan di kisaran 30 milimeter, naik dari 29 milimeter pada sore harinya. Secara visual, terjadi letusan strombolian hingga 100 meter melampaui puncak.

    Pada 3 Agustus 2015, amplitudo minimum naik lagi di 8-32 milimeter dan dominan di 30 milimeter. Situasi tersebut bertahan hingga pengamatan malam hari. Hingga kemudian kenaikan terjadi pada pengamatan Selasa dinihari tadi dengan amplitudo minimal 10-32 milimeter dan dominan di kisaran 30 milimeter. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi belum bisa dikonfirmasi mengenai peningkatan amplitudo minimal Gunung Raung.

    Kepala Subbidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat Hendra Gunawan mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Raung belum stabil dan masih fluktuatif. "Deformasi menunjukkan inflasi, tapi kecil saja, mengindikasikan magma yang mengalir miskin gas. Sehingga yang dikeluarkan berupa magma encer atau kita sebut lava, baik yang mengalir maupun yang lontaran," kata Hendra kepada Tempo, Senin kemarin, 3 Agustus 2015.

    Peneliti dan penjelajah gunung api asal Indonesia, Aris Yanto, yang dihubungi Selasa pagi, 4 Agustus 2015 mengatakan amplitudo menunjukkan getaran tremor akibat ada tekanan dari bawah kawah Raung. "Lubang magma terbuka sehingga terus mengalirkan material pijar," kata Aris.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.