FEATURE: Dua Skenario Indonesia di Laut Cina Selatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal selam Type 209 milik TNI AL, merupakan salah satu kapal selam terbaik di dunia. Dibuat oleh negara penghasil kapal selam terbaik yaitu Jerman. Diawaki 36 pelaut, dan sanggup menyelam hingga kedalaman 300 meter. Kecepatan kapal selam ini mencapai 40Km/perjam, dengan dipersenjatai 8 tabung torpedo. Facebook/korps hiu kencana

    Kapal selam Type 209 milik TNI AL, merupakan salah satu kapal selam terbaik di dunia. Dibuat oleh negara penghasil kapal selam terbaik yaitu Jerman. Diawaki 36 pelaut, dan sanggup menyelam hingga kedalaman 300 meter. Kecepatan kapal selam ini mencapai 40Km/perjam, dengan dipersenjatai 8 tabung torpedo. Facebook/korps hiu kencana

    TEMPO.CO - Sepuluh mesin jet tempur TNI Angkatan Udara meraung di atas padang semak belukar di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung. Tujuh unit Hawk 109-209 dan tiga unit F-16 dari Pangkalan Udara Pekanbaru dan Pontianak berseliweran di atas padang seluas 200 hektare itu. Pesawat-pesawat itu menjatuhkan puluhan bom MK 82 dan menembakkan roket fin folding aerial rocket ke tiga buah target.

    Panglima Komando Operasi Wilayah 1 TNI AU Marsekal Muda A. Dwi Putranto mengatakan dalam latihan perang pada awal Juni lalu itu, Belitung diibaratkan sebagai Natuna, pulau terluar Indonesia yang menghadap Laut Cina Selatan. Dalam simulasi perang tersebut, Pulau Natuna sudah dikuasai negara asing. Tugas TNI AU merusak kantong markas musuh. “Latihan ini sebagai persiapan latihan gabungan TNI di Natuna nanti,” kata Dwi, awal Juni lalu.

    Apakah Natuna memang terancam? Seorang perwira di TNI AU mengatakan latihan perang di Belitung dan rencana latihan gabungan di Natuna merupakan persiapan pemerintah untuk menghadapi perkembangan konflik Laut Cina Selatan yang semakin panas. Walau tak ikut berkonflik, Indonesia bakal kena efeknya jika perang terjadi. Dalam kondisi itu, Natuna paling berisiko karena dekat dengan tempat sengketa. “Dalam latihan perang, TNI ingin tunjukkan kekuatan dan kedaulatan di Natuna,” kata perwira itu.

    Sengketa Laut Cina Selatan melibatkan tujuh negara, yakni Cina, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan, dan Jepang. Cina mengklaim hampir seluruh wilayah perairan itu. Untuk memperkuat klaim, Beijing memerintahkan pembangunan pulau buatan di Kepulauan Spratly. Tentu pembangunan itu menuai kecaman dari enam negara lain.

    Pertengahan April lalu, The New York Times merilis sebuah foto satelit pulau buatan Cina seluas ribuan hektare yang hampir rampung. Di dalamnya terdapat landasan pacu pesawat sepanjang 3 kilometer, dua landasan helikopter, dan sepuluh antena satelit mirip radar militer.

    Filipina, yang paling dekat dengan pulau buatan itu, merasa gerah. Sebagai antisipasi, Filipina berkomitmen menambah anggaran pertahanan hingga 25 persen dari anggaran belanja negara. Dana itu dibutuhkan untuk memodernisasi alat utama sistem persenjataan mereka yang sudah uzur demi menghadapi ancaman Cina.

    Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Johny Josephus Lumintang, menganggap wajar keputusan Manila. Sebab, dari sisi ekonomi perikanan saja, negara itu merugi akibat rusaknya biota laut lantaran reklamasi yang dilakukan oleh Cina. “Filipina juga mendapat dukungan dari saudara tuanya, Amerika Serikat,” kata Johny kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

    Selanjutnya >> Peran Indonesia dalam pusaran konflik Laut Cina Selatan....


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.