Krisis Air Bersih, Penduduk Jalan 4 Kilometer di Tasikmalaya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COTasikmalaya - Sebanyak 12 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat darurat air bersih. Hal ini berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya.

    Kepala BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Kundang Sodikin menyebutkan, 12 kecamatan itu yakni Kecamatan Cipatujah, Bantarkalong, Karangnunggal, Cibalong, Bojong Asih, Culamega, Puspahiang, Salawu, Cigalontang, Ciawi, Tanjungjaya, dan Gunung Tanjung. "Darurat air bersih," katanya saat ditemui di Pendopo Baru Kabupaten Tasikmalaya, Senin 3 Agustus 2015.

    Menurut Kundang, keberadaan air bersih di 12 kecamatan itu sangat memprihatinkan. Warga, bahkan harus berjalan sejauh empat kilometer untuk mendapatkan air bersih. "Ada warga yang harus jalan empat kilometer untuk dapat air bersih," ujarnya.

    Jika hujan tidak turun hingga September, kata Kundang, dapat dipastikan wilayah yang mengalami darurat air bersih akan bertambah. Mengantisipasi meluasnya daerah darurat air bersih, BPBD telah bekerjsama dengan PDAM dan berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. "Termasuk kerjasama dengan pihak kecamatan," jelas dia.

    Kundang berharap, upaya itu mampu memenuhi sebagian kebutuhan air bersih di daerah darurat air bersih. "Kami harap hujan segera turun, agar dampak kekeringan tidak semakin meluas," ucapnya.

    Selain krisis air, sebanyak 20 persen dari 6.000 hektar lahan persawahan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat mengalami kekeringan. Bahkan, 15 persen diantaranya atau 900 hektar mengalami puso alias gagal panen. "Tanaman padi memprihatinkan. 15 persen (lahan sawah) puso," kata Ketua Asosiasi Gabungan Kelompok Tani Kota Tasikmalaya, Yuyun Suyud, Senin 3 Agustus 2015.

    Wilayah terparah yang dilanda kekeringan, kata Yuyun, yakni Kecamatan Cibeureum, Tamansari, dan Kawalu. Akibat kekeringan, produksi beras di Tasikmalaya turun hingga 30 persen. Pada kondisi normal, Kota Tasikmalaya mampu memproduksi beras sebanyak 6-7 ton per hektar. "Yang sekarang panen saja produksinya turun sampai 30 persen," kata dia.

    Yuyun melanjutkan, program pemerintah terutama dalam hal perbaikan irigasi belum berjalan baik. Dia mencontohkan, saat petani butuh air seperti sekarang, irigasi justru ditutup dengan alasan perbaikan. "Saat kemarau diharapkan perbaikan sudah selesai," katanya.

    Walikota Tasikmalaya, Budi Budiman mengatakan, pihaknya saat ini terus mengumpulkan data dan menginventarisir dampak kekeringan. Kata dia, yang terpenting dilakukan saat ini adalah menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat agar tetap ada. "Di sektor pertanian, kami juga tengah melakukan beberapa langkah (mengantisipasi kekeringan)," katanya.

    CANDRA NUGRAHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.