Kemarau, Air Sumur di Bangkalan Berubah Asin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Lee Jae-Won

    REUTERS/Lee Jae-Won

    TEMPO.COBangkalan - Rasa air sumur di Dusun Renggujeng, Desa Arosbaya, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, berubah menjadi asin. Perubahan ini dialami warga sejak sepekan terakhir. "Debit air sumur juga menurun drastis," kata Rusdi, warga Dusun Renggujeng, Senin, 3 Agustus 2015.

    Menurut Rusdi, perubahan rasa ini dijadikan pertanda oleh warga bahwa musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama. Sebab, kata Rusdi, pada kemarau tahun sebelumnya, rasa air sumur di desanya tetap tawar. 

    Karena berubah rasa, kata dia, sebagian warga beralih ke air galon untuk kebutuhan makan, minum, dan masak. Sebagian lain membeli air jeriken yang diambil dari Desa Bunalas, yang berjarak sekitar 2 kilometer. "Air sumur hanya kami gunakan untuk mandi, cuci, dan kakus karena airnya tetap jernih," ujar Rusdi.

    Sekretaris Desa Renggujeng, Nurwadi, mengatakan, sejak 2013, desanya telah mendapat bantuan sumur bor dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Namun belum bisa dioperasikan karena bantuan sumur tidak dilengkapi pipa paralon untuk menjangkau rumah warga. "Sumur bornya terbengkalai," tuturnya.

    Nurwadi berharap segera turun bantuan pipa dan tandon air sehingga air dari sumur bor bisa segera dinikmati warga. "Kalau kemarau, warga minimal harus mengeluarkan uang Rp 150 ribu per bulan untuk beli air bersih dari desa sebelah," ucap Nurwadi.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?