Muktamar NU, Kubu Gus Solah Minta Dugaan Suap Diusut Polisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi  Ibu Negara Iriana Widodo, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri secara resmi membuka Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1 Agustus 2015.  TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Widodo, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri secara resmi membuka Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJombang - Insiden pengusiran peserta Muktamar Nahdlatul Ulama oleh panitia mengundang protes kubu KH Salahuddin Wahid. Mereka menuding pimpinan sidang memihak salah satu kandidat untuk memuluskan pemilihan ketua dengan cara AHWA (ahlul halli wal 'aqdi atau musyawarah mufakat).

    Pernyataan keras ini disampaikan mantan Ketua PBNU Andi Jamaro, yang kecewa atas pelaksanaan sidang pleno semalam. Andi menuding kekacauan ini dipicu oleh pimpinan sidang yang sengaja mengulur-ulur waktu untuk menggiring peserta agar menyepakati AHWA. "Sebagai mantan Ketua PBNU, saya kecewa pada muktamar ini," katanya kepada Tempo, Senin, 3 Agustus 2015.

    Andi, yang menyatakan siap memenangkan KH Salahuddin Wahid sebagai Ketua Umum Tanfidziyah dan KH Hasyim Muzadi sebagai Rais Am Syuriah PBNU, menilai ada upaya sistematis dari panitia untuk memaksakan AHWA. Salah satunya melalui pimpinan sidang yang terus mengulur waktu pembahasan tara tertib soal AHWA dan memberi kesempatan 130 peserta berbicara satu per satu. Sebab, hal ini dipastikan memperpanjang masa sidang yang diikuti para peserta yang mulai kelelahan.

    Menurut dia, mestinya pimpinan sidang justru mengarahkan peserta agar kembali menggunakan AD/ART sebagai solusi menyelesaikan sengketa. Tidak malah membiarkan peserta terjebak dalam debat kusir soal penerapan AHWA.

    Andi juga memprotes sikap pimpinan sidang yang justru mengusir peserta saat menyampaikan informasi adanya upaya suap terhadap peserta sidang. Seharusnya, tutur dia, pimpinan sidang menyikapi dengan arif, diklarifikasi, dan melakukan tabayun untuk mencari kebenaran atas informasi itu. Sikap panitia yang arogan ini justru semakin menguatkan kebenaran isu itu. "Bukan malah mengusirnya," ucapnya.

    Karena itu, Andi berharap polisi bisa menelusuri indikasi suap tersebut dan menangkap pelakunya. Dia menginginkan NU menunjukkan martabatnya sebagai organisasi Islam.

    Sebelumnya, seorang peserta diusir oleh Banser karena dianggap menuduh kiai melakukan praktek suap untuk memuluskan AHWA. Peserta itu bahkan mengaku memergoki sendiri seseorang ke asrama peserta dengan membawa tas berisi uang. 

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.