Pemilihan di Muktamar NU, Cak Nur: Voting dan Ahwa Sama Baik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo secara resmi membuka Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU), di Jombang, Jawa Timur, 1 Agustus 2015. Pembukaan Muktamar NU ini dihadiri pula oleh sejumlah menteri Kabinet Kerja. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo secara resmi membuka Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU), di Jombang, Jawa Timur, 1 Agustus 2015. Pembukaan Muktamar NU ini dihadiri pula oleh sejumlah menteri Kabinet Kerja. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Dai' KH Muhammad Nurhadi mengharapkan para peserta Muktamar Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang dari 1-5 Agustus 2015 tidak mempersoalkan model  pemilihan calon ketua umum.  Bila ada dualisme dalam model pemilihan, diharapkan lebih mengedepankan kepentingan umat.

    "Kedua metode itu musyawarah atau voting sama baiknya untuk mencari pimpinan yang terbaik yang mampu menjadi uswah (tauladan) bagi umat dan bangsa," kata Cak Nur sapaan akrab KH Muhammad Nurhadi kepada Tempo, Ahad, 2 Agustus 2015.

    Menurut Cak Nur, bila hasil keputusan majelis yang diterima adalah metode musyawarah, maka mereka yang berpegang pada metode voting sebaiknya legowo. "Menerima secara sepakat itu merupakan awal dari sebuah kelapangan  untuk menghasilkan sebuah konsep ke depan yang lebih baik," kata pengasuh acara 'Al Qur'an Menjawab' yang ditayangkan TVRI Nasional.

    Pada Muktamar ke-33 ini, sejumlah ulama beda pendapat tentang konsep pemilihan dengan voting muktamirin atau melalui musyawarah 9 ulama perwakilan. Sebelumnya berkembang isu sejumlah muktamirin yang mengaku diintimidasi panitia muktamirin.

    Mereka dipaksa bersedia  mengikuti pross pemilihan Rois Aam melalui ahlul halli wal aqdi (Ahwa  atau mufakat). Peserta yang tak setuju akan dipersulit kepesertaannya dalam kegiatan Muktamar.

    Cak Nur yang juga pembawa acara 'Nation on Track' di Metro TV ini menyebutkan apa pun metode pemilihannya tetap harus mengacu pada visi dan misi yang sama. "Yakni demi kepentingan peradaban umat khususnya bangsa dan negara," kata dai' yang sudah  melanglang buana berdakwah ke Eropa dan bersilaturahmi ke Vatikan, Italia ini.

    Menurut Cak Nur, Islam tak  mempersoalkan sistem pemilihan. Yang terpenting adalah output dari muktamar yakni terpilihnya pimpinan yang  bersedia mengorbankan harta dan jiwa untuk untuk agama dan bangsa.  "Bila di dalam pemilihan itu terdapat sosok yang berambisi untuk kepentingan pribadi, maka organisasi sebesar apa pun dan secanggih apa pun sistemnya tetap saja ibarat menabur angin segera menuai badai."

    SETIAWAN ADIWIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.