Yenny Wahid Setuju Pemilihan Rais Aam NU Lewat Metode AHWA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj (kedua dari kanan), Bupati Jombang, Nyono Suharli (tengah), dan Yenny Wahid (kedua dari kiri) melihat gladi bersih Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur. TEMPO/ISHOMUDDIN

    Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj (kedua dari kanan), Bupati Jombang, Nyono Suharli (tengah), dan Yenny Wahid (kedua dari kiri) melihat gladi bersih Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur. TEMPO/ISHOMUDDIN

    TEMPO.CO, Jombang - Putri mendiang KH Abdurrahman Wahid, Zannuba Arrifah Chafsoh, yang akrab disapa Yenny Wahid, mendukung mekanisme ahlul halli wal aqdi (AHWA) atau musyawarah mufakat untuk memilih Rais Aam dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang. Menurut Yenny, metode AHWA lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada pemilihan secara langsung.

    Para sempat kiai terbelah dalam tata cara pemilihan Rais Aam NU dalam muktamar kali ini. Sebagian setuju dengan mekanisme AHWA, adapun sebagian lainnya menolak. Pemilihan dengan mekanisme AHWA ini sendiri telah diputuskan dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Jakarta sebelum muktamar digelar.

    Menurut Yenny, pihak-pihak yang menganggap bahwa sistem pemilihan Rais Aam melalui AHWA antidemokrasi adalah keliru. Metode AHWA, kata dia, justru mengedepankan musyawarah sebagai pijakan NU dalam memutuskan persoalan. "Saya setuju dengan metode pemilihan AHWA," kata Yenny kepada Tempo di Jombang, Sabtu, 1 Agustus 2015.

    Demokrasi, menurut pemahaman Yenny, adalah ditampungnya seluruh aspirasi, baik secara langsung maupun perwakilan. Karena itu metode pemilihan Rais Aam oleh perwakilan tim formatur sudah cukup mewakili suara cabang. Sebab, cabang sendiri yang menentukan dan memilih perwakilan mereka.

    Tim formatur, ujar Yenny, sudah pasti terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan luas soal NU. Karena itu tak ada yang perlu diragukan dari metode pemilihan AHWA seperti yang diprotes oleh beberapa pengurus cabang. Sebab, sejarah NU sendiri dilahirkan dari proses musyawarah.

    "Metode AHWA sesuai dengan semangat Mbah Hasyim (pendiri NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari) untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta membedakan NU dengan partai politik," katanya.

    Sebelumnya sejumlah cabang menolak pemberlakuan AHWA dalam pemilihan Rais Aam karena dinilai tak demokratis. Mereka menghendaki pemilihan secara langsung oleh muktamirin.

    Sikap penolakan ini disampaikan sembilan cabang NU, yakni Kota/Kabupaten Kediri,  Kota/Kabupaten Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, dan Ponorogo. "Kita sepakat merevisi AHWA," kata Ketua Pengurus Cabang NU Kota Kediri Ahmad Subakir.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.