Kekeringan, Titik Panas di Jambi Meningkat Drastis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hutan di provinsi Jambi, pulau Sumatera. ANTARA/Fanny Octavianus

    Hutan di provinsi Jambi, pulau Sumatera. ANTARA/Fanny Octavianus

    TEMPO.CO, Jambi - Dinas Kehutanan Provinsi Jambi memastikan titik panas di wilayah Jambi meningkat cukup signifikan. Jika pada Selasa, 28 Juli 2015, hanya ditemukan enam titik, hari ini, 30 Juli 2015, sudah meningkat jadi 61 titik panas.

    "Berdasarkan hasil pantauan yang kami terima hari ini, ada peningkatan cukup signifikan, ada 61 titik panas, tersebar di tujuh kabupaten,” kata petugas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Doni, kepada Tempo, Kamis, 30 Juli 2015. Penilaian ini berdasarkan pantauan satelit NOAA.

    Dia menambahkan, wilayah itu meliputi Kabupaten Tebo 25 titik, Tanjungjabung Barat 13 titik, Tanjungjabung Timur 4 titik, Sarolangun 7 titik, Merangin 1 titik, Muarojambi 8 titik, dan Kabupaten Batanghari 3 titik.

    Menurut Doni titik panas itu ditemukan sebagian besar di kawasan lahan milik warga dan selebihnya di kawasan konsesi milik perkebunan besar swasta.

    Namun berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jambi, kondisi udara di Jambi masih relatif normal. Jarak pandang stabil, belum mengganggu aktivitas penerbangan. "Pada pagi, sebelum pukul 08.00 WIB, jarak pandang sekitar 5.000 meter. Siang hingga sore di kisaran 10 ribu meter, kata prakirawan BMKG Jambi, Dian, kepada Tempo.

    Begitu juga suhu udaranya masih sekitar 33 derajat Celsius. “Biasanya pada kondisi normal 32 derajat Celsius," katanya.

    Berdasarkan pantauan Tempo, akibat kemarau kali ini menyebabkan debit air Sungai Batanghari menyusut hingga dibawa delapan meter. Akibat kemarau, sekurangnya 2.000 hektare lebih kawasan pertanian dan persawahan warga kekeringan dan terancam puso.

    SYAIPUL BAKHORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?