Kekeringan, Petani Brebes Telantarkan Sawah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani memotong batang padi saat panen di Desa Sirnajati, Cibarusah, Jawa Barat,  28 Juli 2015. Kekeringan yang melanda daerah Cibarusah memaksa petani memanen lebih awal. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Petani memotong batang padi saat panen di Desa Sirnajati, Cibarusah, Jawa Barat, 28 Juli 2015. Kekeringan yang melanda daerah Cibarusah memaksa petani memanen lebih awal. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Brebes - Kekeringan yang mulai melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah memaksa para petani di Brebes menelantarkan sawah mereka untuk sementara waktu. Mereka memilih tidak menggarap sawah karena air sungai maupun tanah sebagai sumber pengairan telah bercampur dengan resapan air laut.

    Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Brebes Budiharso mengatakan sawah-sawah yang ditinggalkan para petani tersebut berada di sisi utara jalur Pantai Utara Jawa, dekat dengan tepi pantai. Akibat resapan air laut, air tanah mempunyai kadar salinitas yang tinggi yang kalau digunakan untuk mengairi sawah bisa merusak kesuburan tanah. “Sawahnya malah tidak bisa ditanami,” katanya, Selasa, 28 Juli 2015.

    Hardiyanto, salah seorang petani di Desa Kertabesuki, Kecamatan Wanasari, mengatakan ia dan para petani lain memilih tidak menggarap sawah pada musim kemarau saat ini dan membiarkan sawah mengering seusai panen bawang merah beberapa waktu lalu. “Kami baru menanam padi kalau sudah turun hujan,” ujarnya.

    Data Dinas Pertanian menunjukkan sawah produktif yang kini mulai ditelantarkan selama musim kemarau membentang dari wilayah pesisir Kecamatan Losari, Tanjung, Bulakamba, Wanasari, hingga Brebes. Di Bulakamba saja, kata Budiharso, total luas sawah yang dibiarkan mangkrak mencapai 1.000 hektare.

    Adapun total luas tanam padi di Brebes pada musim tanam April–September tahun ini sekitar 18.000 hektare. Mayoritas tanaman padi berada di Brebes wilayah selatan jalur Pantura, seperti Kecamatan Bumiayu, Songgom, dan Paguyangan. Rata-rata tanaman padi di tiga kecamatan itu berumur 60-70 hari.

    Di Desa Lawatan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, para petani memutuskan memanen padi lebih awal yang normalnya dilakukan setelah berumur 100 hari. “Sekarang baru umur 70 hari sudah dipanen,” kata Darwinah, 50 tahun. Akibatnya, jumlah panen kali ini menurun drastis. “Biasanya dari satu hektare lahan bisa dipanen 8-10 ton padi. Sekarang hanya bisa panen sekitar 4 hektare. Jelas rugi besar,” ucapnya.

    DINDA LEO LISTY 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?