Kekeringan, Menteri Desa Ajak Masyarakat Berdoa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kekeringan melanda sejumlah desa di KabupatenTegal, karena hujan sudah tidak mengguyur sejak sekitar dua bulan lalu. Suradadi, Tegal, 30 Juni 2015. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Kekeringan melanda sejumlah desa di KabupatenTegal, karena hujan sudah tidak mengguyur sejak sekitar dua bulan lalu. Suradadi, Tegal, 30 Juni 2015. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.COJakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar mengimbau masyarakat, khususnya warga desa yang mengalami kekeringan, untuk  berdoa. Pada musim kemarau tahun ini banyak desa yang mengalami kekeringan dan terancam gagal panen.

    Politikus Partai Kebangkitan Bangsa tersebut menyerukan agar warga melakukan salat istisqa, salat untuk memohon turunnya hujan. Menurut dia, dukungan spritual dari masyarakat dapat menjadi solusi konkret masalah kekeringan selain upaya manipulasi hujan dan mata air yang terus diupayakan pemerintah.

    “Solidaritas antar desa dengan saling berbagi air juga tak kalah penting,” kata Marwan melalui keterangan resminya, Ahad, 26 Juli 2015.

    Marwan mengatakan hampir seluruh wilayah negeri mengalami kekeringan. Sebanyak 379 desa di Provinsi Nusa Tenggara Barat, 80 desa di Pamekasan, dan 38 desa di Wonogiri mengalami kekeringan. Bahkan, Bogor yang beken sebagai Kota Hujan mengalami kekeringan di separuh wilayahnya.

    Secara terperinci, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan NTB menjadi daerah yang paling darurat kekeringan dan menjadi daerah yang paling panas tersengat matahari. “Di daerah itu sudah tak ada lagi hujan,” ujar Kepala Subbidang Informasi Meteorologi BMKG Hary Tirto ketika dihubungi Tempo, Ahad.

    Sebelumnya, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Mudjiadi mengatakan pihaknya telah mempersiapkan Standar Operasional Prosedur guna menghadapi kekeringan.

    Salah satu yang dilakukan adalah dengan menghemat air untuk irigasi. Tanaman yang dialiri pengairan dari irigasi, kata dia, harus diperiksa apakah pola tanamnya sesuai dengan yang direncanakan. Soalnya tak semua jalur irigasi bisa ditanam dua kali. “Belakangan kami menemukan ada yang menanam di luar jadwal. Ini banyak yang kekeringan,” kata dia. 

    Selain itu, juga ada metode gilir giring. Metode ini menggilir tanaman mana yang diairi dan menggiringnya ke petak tertentu. Untuk pola operasi waduk, hanya memakai keperluan yang utama, yakni mendahulukan keperluan air minum. 

    ANDI RUSLI | MITRA TARIGAN | TRI ARTINING PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.