Masjid Berdiri di Tolikara, Begini Kisahnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kawasan pertokoan yang kembali dibuka di kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, beberapa hari pasca kerusuhan Lebaran, 23 Juli 2015. TEMPO/Maria Hasugian

    Suasana kawasan pertokoan yang kembali dibuka di kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, beberapa hari pasca kerusuhan Lebaran, 23 Juli 2015. TEMPO/Maria Hasugian

    TEMPO.COKarubaga - Garis polisi warna kuning melilit satu bangunan yang letaknya berseberangan dengan lapangan markas Koramil 1702-11 Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua. Sementara bangunan kios yang jumlahnya puluhan tanpa garis polisi.

    Papan nama yang tergeletak di lantai bangunan yang dililit garis polisi itu memberi petunjuk bahwa bangunan itu sebelumnya berfungsi sebagai tempat ibadah umat muslim di Tolikara. Papan itu bertuliskan Masjid Baitul Muttaqim, Jalan Irian No.01 Kec. Karubaga KAB. TOLIKARA.

    Menurut Ustad Ali Mukhtar, masjid itu memang dibangun tanpa sepengetahuan dan seizin dari pemerintah setempat dan masyarakat Tolikara. Selama ini Pengurus Gereja Injili di Indonesia (GIDI) melarang rumah ibadah apa pun didirikan tanpa seizin tokoh-tokoh masyarakat Tolikara.

    Menurut Ustad Ali, satu musala berdiri tahun 1987. Masyarakat bekerja sama mendanai pendirian musala. Ukuran musala 5 x 5 meter persegi. Jumlah umat muslim yang terus bertambah membuat musala diperbesar menjadi berukuran 11 x 11 meter persegi dan berdempetan dengan kios milik warga. Musala lantas berubah jadi masjid. Namun tidak ada yang melarang atau mendesak musala atau masjid ditutup.   

    “Kami di sini tidak pernah dilarang atau suruh bongkar karena itu sudah lama. DPRD di sini bilang silakan lanjut karena sudah berdiri lama,” kata Ali.

    Seingat Ali, ia hanya pernah ditemui 32 orang yang terdiri dari tokoh agama Kristen Tolikara, mahasiswa, tokoh adat, dan pemimpin daerah setempat. Mereka, ujarnya, meminta umat muslim yang akan merayakan hari besar keagamaannya untuk mengajukan izin terlebih dahulu.

    Warga muslim di Tolikara umumnya pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Pulau Jawa, dan Sumatera. Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo membenarkan pendirian musala yang kemudian berubah jadi masjid itu tanpa ada izin dari tokoh dan warga setempat. Tolikara merupakan wilayah yang semua penduduk aslinya merupakan anggota GIDI.

    Ketiadaan izin itu  tidak dipersoalkan GIDI maupun pemda setempat selama ini hingga terjadi rusuh pada Jumat pekan lalu. Kala itu terjadi pembakaran puluhan kios dan musala. “Saya baru tahu itu masjid. Selama ini yang saya tahu musala,” ujarnya kepada Tempo di rumah dinasnya, Jumat pagi, 24 Juli 2015.

    Di pemberitaaan media nasional, ada yang menyebut musala dan ada yang menyebut masjid. Di papan nama itu tidak tertulis musala, melainkan masjid. Letak masjid ini berdempetan dengan kios dan tanpa kubah.

    Bupati Usman menyebut jumlah umat muslim di Tolikara berkisar 200 orang. Sebagian besar mereka di Tolikara sebagai pedagang. “Mereka datang dan tinggal di Wamena dan punya toko di sini,” katanya.  

    MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.