Saan Mustopa Disokong Gerindra Jadi Bupati Karawang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris fraksi Partai Demokrat Saan Mustopa. TEMPO/Imam Sukamto

    Sekretaris fraksi Partai Demokrat Saan Mustopa. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Karawang - Politikus Demokrat, Saan Mustopa, menyatakan siap menghadapi segala resiko untuk maju sebagai calon Bupati Karawang di pilkada 2015. Dia siap menghadapi semua risiko termasuk jika harus dikeluarkan dari Partai Demokrat.

    Untuk saat ini, Saan Mustopa mengatakan belum mundur dari Partai Demokrat. Dia mengaku siap jika dijatuhi sanksi dari partainya. Pasalnya, hal tersebut merupakan sebuah konsekuensi politik yang harus ia hadapai.

    "Sampai saat hari ini, saya masih kader Demokrat. Sebagai kader. Itu menjadi konsekuensi politik," kata Saan kepada Tempo setelah konferensi pers di salah satu rumah makan di Karawang, Jumat 24 Juli 2015

    Saan mengatakan, Demokrat merupakan partai yang demokratis. Ia yakin DPP Partai Demokrat, akan mengambil sikap yang bijak dalam mengambil keputusan yang ia ambil. "Saya yakin, sebagai partai yang demokratis, Demokrat akan mengambil sikap yang bijak terkait langkah yang saya ambil," kata Saan.

    Saat ini, Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Kabupaten Karawang siap mendukung Saan di Pilkada Karawang dengan syarat Saan mundur dari Demokrat. Hal ini dinyatakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Kabupaten Karawang, Royke Benta Sahetapy.

    "Pertimbangannya adalah beliau keluar dari keanggotaan, wasekjen dan mundur dari DPR RI," ujar Roy kepada Tempo di tempat yang sama.

    Untuk itu, Roy bersama jajaran pengurus DPC Partai Gerindra Kabupaten Karawang, mengaku siap untuk memenangkan pasangan Saan Mustopa dan Iman Somantri di Pilkada nanti. "Kita tegaskan kita akan kawal kemenangan Saan," kata Roy.

    HISYAM LUTHFIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.