Tragedi Tolikara, Tokoh Agama Sepakat Jaga Kerukunan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kawasan pertokoan yang kembali dibuka di kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, beberapa hari pasca kerusuhan Lebaran, 23 Juli 2015. TEMPO/Maria Hasugian

    Suasana kawasan pertokoan yang kembali dibuka di kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, beberapa hari pasca kerusuhan Lebaran, 23 Juli 2015. TEMPO/Maria Hasugian

    TEMPO.COBandung - Tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bandung menyatakan sikap menjaga kerukunan antarumat beragama. Aksi ini menyusul meletusnya konflik di Tolikara, Papua, pada 17 Juli 2015. Mereka berkomitmen menghormati satu sama lain meski berbeda keyakinan.

    Pernyataan sikap tersebut dilakukan pada acara silaturahmi keamanan dan ketertiban masyarakat yang digelar Kepolisian Resor Kota Besar Bandung, Jumat, 24 Juli 2015. Setidaknya ada tujuh poin yang disepakati semua anggota FKUB terkait dengan komitmen menjaga persatuan umat lintas agama dan menjaga keamanan di Kota Bandung.

    Salah satu poin dari pernyataan sikap yang disepakati para tokoh agama adalah imbauan kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang berkembang. Selain itu, mereka bersepakat tidak memberikan pernyataan apa pun yang dapat memperkeruh suasana dan meresahkan masyarakat.

    Ketua FKUB Kota Bandung Ahmad Suherman menuturkan keharmonisan antarumat beragama di Kota Bandung sudah baik. Jangan sampai, dengan adanya konflik di Tolikara, kerukunan yang telah terjalin selama berpuluh-puluh tahun itu rusak.

    "Sejauh ini, kami memandang keamanan dan kerukunan warga Kota Bandung. Kami berkomitmen terus menjaga situasi tersebut," kata Ahmad disela-sela acara silaturahmi.

    Ia meminta masyarakat Kota Bandung menjaga kesatuan dan persatuan. Jangan sampai masyarakat mudah terprovokasi dengan isu SARA. "Jangan sampai Kota Bandung terkena imbas dari konflik Tolikara yang belum jelas penyebabnya," ucapnya.

    Dalam acara tersebut, hadir di antaranya Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jendral Moechgiyarto, Wakil Wali Kota Bandung Oded Muhamad Danial, dan pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Abdullah Gymnastiar.

    Sementara itu, Kepala Polda Jawa Barat Irjen Moechgiyarto berujar, acara silaturahmi itu digelar untuk mengantisipasi menjalarnya konflik Tolikara ke wilayah Jawa Barat. Tindakan antisipasi konflik tersebut telah dilakukan saat kejadian Tolikara menjadi buah bibir di kalangan masyarakat.

    "Jadi, begitu kejadian di Tolikara, saya langsung mengambil langkah-langkah antisipasi dengan berkomunikasi dengan jajaran polres di Jawa Barat untuk mengambil langkah-langkah antisipasi. Salah satu caranya, mendatangi tokoh-tokoh agama untuk memberikan penjelasan agar tidak terjadi kesimpangsiuran," tutur Moechgiyarto.

    Kendati demikian, hingga saat ini, kondisi keamanan di Jawa Barat, menurut dia, masih berjalan normal. Namun, kata dia, kepolisian masih melakukan langkah-langkah antisipasi dengan menurunkan petugas di setiap gereja. "Tetap ada antisipasi. Jadi sudah saya perintahkan untuk tetap menjaga gereja, terutama pada malam hari, bersama-sama dengan pemuda gereja setempat," ujarnya.

    IQBAL T. LAZUARDI S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.