BMKG: Puncak Kemarau di Bogor pada Agustus-September

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengendara melintas di atas bendungan Katulampa yang mengalami kekeringan di Bogor, 19 September 2014. ANTARA/Jafkhairi

    Sejumlah pengendara melintas di atas bendungan Katulampa yang mengalami kekeringan di Bogor, 19 September 2014. ANTARA/Jafkhairi

    TEMPO.CO , Bogor - Warga Bogor dan sekitarnya harus bersiap-siap menghadapi puncak musim kemarau pada Agustus-September 2015.  Hal itu merujuk pada prediksi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Dramaga.

    "Jika beradasarkan pantauan citra satelit cuaca, untuk dua bulan ke depan tidak ada kumpulan awan di atas Bogor dan sebagian besar Jawa Barat, tidak ada awan yang berpotensi hujan," kata Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Dedi Sucahyono kepada Tempo, Kamis, 23 Juli 2015.

    Dedi mengatakan, dengan kondisi cuaca yang sudah masuk musim kemarau, wilayah Bogor dan sebagian besar Jawa Barat masuk status "warning kekeringan",  bahkan beberapa wilayah yang memiliki persawahan yang sangat luas sudah puso. "Sudah banyak wilayah yang kekeringan dan tandus karena sudah tidak diguyur hujan," katanya. 

    Kategori atau status "warning kekeringan" itu artinya tidak diguyur hujan lebih dari 26-30 hari. Wilayah yang masuk status ini antara lain Bogor (Katulampa, Dramaga, Ciriung, Cariu, Cisasungka), Bekasi, Karawang (Batu Jaya, Teluk Buyung), Subang, Sumedang, Cirebon, Sukabumi, dan Cianjur.

    Sedangkan daerah di Jawa Barat yang tidak pernah diguyur hujan lebih dari 31-60 hari adalah Indamayu (Losareng), Cirebon (Cangkring, Tukmudal, Setu Patok Selatan, Dindang Laut, Sedang, Seseupan), dan Majalengka, mencakup daerah Sadawangi, Sunia. "Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah persawahan yang menjadi lumbung beras Jawa Barat," kata dia.

    Dedi mengatakan musim kemarau pada tahun ini diperkirakan akan lebih ekstrem dan lebih lama dibanding musim kemarau tahun-tahun sebelumnya. 

    Hal ini terjadi, kata dia, karena aktifnya El Nino di Samudra Pasifik bagian tengah, yang mengakibatkan musim kemarau tahun ini lebih awal dan lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.

    M SIDIK PERMANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.