Minat Warga Gunungkidul Pindah ke Jakarta Menurun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penumpang membawa barang-barangnya menuju bus saat berada di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, 9 Juli 2015. Untuk mengantisipasi arus mudik dan balik 2015, Terminal Kampung Rambutan menyiapkan armada sebanyak 7.923 bus reguler dan 490 bus bantuan. TEMPO/Frannoto

    Sejumlah penumpang membawa barang-barangnya menuju bus saat berada di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, 9 Juli 2015. Untuk mengantisipasi arus mudik dan balik 2015, Terminal Kampung Rambutan menyiapkan armada sebanyak 7.923 bus reguler dan 490 bus bantuan. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.COYogyakarta - Dinas Kependudukan Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memprediksi tren urbanisasi warganya ke kota besar tahun ini relatif menurun. "Sudah ada wanti-wanti dari daerah lain, terutama kota besar, agar warga yang mau pindah memenuhi sejumlah persyaratan. Ini cukup mempengaruhi," ujar Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Gunungkidul Virgilio Soriano kepada Tempo, Kamis, 23 Juli 2015.

    Misalnya, untuk area Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta warga yang baru ke Jakarta pasca-Lebaran harus sudah punya pekerjaan dan bekal uang cukup untuk hidup.  

    Virgilio menuturkan penurunan minat pindah ini, misalnya, terlihat dari permohonan pindah pascalibur Lebaran ini yang cenderung sedikit dibanding tahun lalu. "Baru sekitar sepuluh warga usia produktif yang mengajukan pindah kependudukan," tuturnya. 

    Pada rentang waktu yang sama pada Lebaran tahun lalu, setidaknya ada seratus aplikasi perpindahan kependudukan yang diterima pemerintah. Kali ini, perpindahan pun tak didominasi untuk area Jakarta, tapi beralih ke daerah di Jawa Timur dan Jawa Barat.

    Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Transmigrasi Gunungkidul Dwi Warna mengakui tren urbanisasi ke Jakarta masih menjadi idola penduduk usia produktif di Gunungkidul. Terlebih jika ada kerabat yang sukses di rantau. "Sehingga kami galakkan terus program pelatihan keterampilan rutin, agar warga yang merantau memiliki keahlian bekerja sesuai dengan minat," ujarnya.

    Adapun Kota Yogyakarta tidak menjadi sasaran urbanisasi dari daerah sekitar. Menurut Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Yogyakarta Hadi Mochtar, dengan jumlah angkatan kerja di DIY tahun ini yang mencapai 1,9 juta orang dan lahan kerja relatif terbatas di perkotaan Yogya, ia pesimis urbanisasi terjadi di Yogya. "Tetap lebih banyak yang akan keluar Yogya untuk mencari pekerjaan," tuturnya.

    Malah, kata Hadi, sekitar 6.000 pencari kerja di Kota Yogyakarta sampai pertengahan tahun ini turut mendaftarkan diri melalui pemerintah kota guna disalurkan ke daerah-daerah industri, seperti Batam.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.