Rusuh Tolikara, Ketua MPR: Kita Mundur 70 Tahun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kawasan pertokoan yang kembali dibuka di kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, beberapa hari pasca kerusuhan Lebaran, 23 Juli 2015. TEMPO/Maria Hasugian

    Suasana kawasan pertokoan yang kembali dibuka di kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, beberapa hari pasca kerusuhan Lebaran, 23 Juli 2015. TEMPO/Maria Hasugian

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan sangat menyayangkan jika konflik di Tolikara benar-benar terjadi karena landasan perbedaan agama. Menurutnya, hal ini sangat mencoreng ideologi kebangsaaan, Pancasila.

    "Kita seperti jalan mundur ke-70 tahun lalu," ujar Zul, sapaan Zulkifli, saat halalbihalal bersama Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro di kantornya, Kamis, 23 Juli 2015. 70 tahun yang lalu, maksud Zul, adalah waktu kelahiran Pancasila pada 1 Juni 1945.

    Menurut Zul, apa yang terjadi di Torikara tak hanya menjadi pukulan bagi negara tapi juga buat lembaganya. Wawasan kebangsaan, ihwal toleransi beragama, terbukti belum merata dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia.

    Zul mengatakan akan memastikan para kepala daerah terpilih nanti memiliki wawasan kebangsaan yang mumpuni. Selain itu, intensitas sosialisasi dasar negara akan digalakkan lebih mendalam hingga daerah terpencil. "Tidak boleh mengganggu agama lain, ataupun ada yang dendam karena peristiwa ini," ujarnya.

    Zul juga berharap pihak kepolisian berhasil mengungkap fakta di balik konflik tersebut dengan cepat. "Kalau ada yang terbukti bersalah, sikat habis," kata Zul.

    Selain itu, bekas Menteri Kehutanan tersebut, mendorong Badan Intelijen Negara untuk segera merekrut banyak intelijen baru agar dapat menjadi peredam potensi-potensi konflik beragama seperti yang ditakutkan terjadi di Tolikara tersebut.

    Kerusuhan di Karubaga, Tolikara, terjadi saat umat Islam melaksanakan salat Id pada 17 Juli 2015. Sebanyak 53 kios habis dibakar, termasuk musala yang berada di lingkungan kios. Selain korban materiil, sebanyak sebelas warga penyerang mengalami luka-luka, satu di antaranya tewas tertembak aparat.

    Bentrokan terjadi ketika puluhan orang yang diduga anggota jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) memprotes penyelenggaraan salat Id di lapangan Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702-11, Karubaga. Mereka berdalih telah memberitahukan agar kegiatan ibadah Lebaran tak dilaksanakan di daerah tersebut karena berbarengan dengan acara Seminar dan kebaktian kebangunan rohani (KKR) internasional pemuda GIDI.

    Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI Komisaris Jenderal Budi Waseso mengklaim kondisi di Kabupaten Tolikara sudah mulai membaik. "Sudah ada perdamaian di Tolikara," katanya di Mabes Polri. Polisi sudah memeriksa 37 saksi.

    ANDI RUSLI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.