Soal Tolikara, Aa Gym: Wajar Jika Umat Islam Marah, tapi...  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ustad AA Gym memberi tausiah saat menggelar pengajian Ramadhan bersama Bandung Hijabers Community di Masjid Al Ukhuwah, Bandung, Jawa Barat, 28 Juni 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Ustad AA Gym memberi tausiah saat menggelar pengajian Ramadhan bersama Bandung Hijabers Community di Masjid Al Ukhuwah, Bandung, Jawa Barat, 28 Juni 2015. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Kiai kondang asal Bandung Abdullah Gymnastiar yang akrab dengan panggilan Aa Gym meminta agar insiden Tolikara di Papua, tidak dipanasi lagi. “Jangan sampai terjadi kerusakan yang lebih besar lagi, rugi bangsa ini,” kata Aa Gym selepas memberi tausyiah di acara Halal Bi Halal di Gedung Sate, Bandung, Rabu, 23 Juli 2015.

    Aa Gym meminta, jika ada umat Islam yang berniat ke Tolikara agar niatnya untuk berubat positif dan produktif, seperti ikut membangun masjid. “Kalau pergi ke Papua membangun masjid supaya lebih bagus, membuat suasana lebih damai, kerukunan lebih bagus, itu bagus tujuannya. Kalau balas dendam, tidak bagus,” kata Aa Gym.

    Menurut Aa Gym, wajar jika ada umat Islam yang marah. Tapi Aa Gym meminta umat Islam menahan diri. “Jangan sampai menzolimi orang-orang yang tidak mempunyai kesalahan,” kata dia.

    Aa Gym juga meminta aparat keamanan bertindak tegas. “Kepada yang aparat, terutama, bertindaklah secepatnya, se-adil mungkin, setegas mungkin, agar tidak melebar. Kepada yang tidak mengerti apa-apa jangan banyak komentar yang bisa menambah keruh suasana,” kata Aa Gym.

    Pada tausyiahnya di depan pejabat pemerintah dan kabupaten/kota di Jawa Barat itu, Aa Gym menyinggung soal perbedaan. Dia mengatakan, yang menjadi maslaah itu bukan soal perbedaan, tapi menyikapi perbedaan. “Masalah kita suka salah menyikapi perbedaan,” kata Aa Gym.

    Aa Gym mengatakan, perbedaan justru karunia yang akan menghadirkan sesuatu yang besar. Aa Gym mengatakan menyikapi perbedaan itu sudah diajarkan di keluarga dan sekolah. “Keterampilan dasar yang harus dididik dalam keluarga dan sekolah adalah kearifan menyikapi perbedaan,” kata dia.

    Seperti diberitakan sebelumnya, jemaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) Tolikara terlibat bentrok dengan kepolisian dan warga setempat yang tengah melaksanakan salat Idul Fitri, pada Jumat, 17 Juli 2015.

    Insiden ini bermula dari protes jemaat GIDI yang keberatan dengan pelaksanaan salat Id di Musala Baitul Mutaqin di halaman Markas Koramil Tolikara. Mereka beralasan, pada jam yang sama, pemuda GIDI tengah mengadakan ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di dekat Makoramil.

    Jemaat gereja itu tak terima dengan keberadaan pengeras suara yang dinilai mengganggu jalannya seminar dan ibadah mereka di gereja.

    Ketika protes warga makin memanas, polisi melontarkan tembakan ke arah jemaat. Akibatnya, sebelas orang terluka dan satu orang anak tewas. Penembakan ini justru memancing kemarahan lebih besar. Jemaat GIDI mulai menyerang musala, rumah, dan kios di lokasi salat Id.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.