Jokowi Didesak Serius Lindungi Anak-anak dari Rokok  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bahaya rokok. (acehonline)

    Ilustrasi bahaya rokok. (acehonline)

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo didesak agar segera menandatangani FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) demi melindungi anak-anak Indonesia dari dampak konsumsi rokok dan paparan asapnya. Desakan ini muncul dari kelompok Gerakan Muda FCTC, yaitu sekelompok anak muda yang menggalang dukungan agar Indonesia mengaksesi FCTC.  Margianta Surahman, juru bicara Gerakan Muda FCTC menyatakan hingga pertengahan Juli lalu telah terkumpul 30 ribu dukungan masyarakat lewat petisi online.

    Petisi ini digagas Robby Indra Wahyuda, penderita kanker larynx yang mulai merokok sejak anak-anak di https://www.change.org/dukungfctc– dan dukungan di http://twibbon.com/support/fctc-untuk-indonesia?fb_ref=Default.

    “Dukungan yang telah terkumpul ini, akan disampaikan kepada Presiden Jokowi pada pertengahan Agustus 2015,” kata Margianta dalam keterangan persnya kepada Tempo, Kamis (23/7). Kegiatan ini, kata Margianta lagi, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2015 yang setiap tanggal 23 Juli.

    Menurut Margianta, permintaan kepada Presiden untuk segera mengaksesi FCTC adalah keinginan masyarakat agar pemerintah berkomitmen membuat aturan-aturan yang lebih ketat untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia dari dampak rokok.  “Aturan ini misalnya dalam pembatasan akses rokok sehingga rokok tidak dijual di semua tempat dan tidak dijual kepada anak, pengenaan cukai rokok yang tinggi supaya harga rokok tidak bisa dijangkau anak-anak, pengaturan larangan iklan dan promosi rokok secara total agar anak-anak bisa mendapat informasi yang benar tentang bahaya merokok, serta pengaturan kawasan tanpa rokok (KTR), sehingga  anak-anak akan menghirup udara bersih dan terbebas dari paparan  asap rokok,” tegas Margianta.

    Data World Health Organization (WHO) menyebutkan jumlah perokok di Indonesia mencapai 62,3 juta orang. Jumlah ini menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia dalam jumlah perokok, setelah Cina dan India (WHO, 2008).

    Dari jumlah tersebut, 70% diantaranya merokok sebelum usia 19 tahun. Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan menunjukkan, perokok usia 10-14 tahun meningkat 2 kali lipat dalam 10 tahun (1,935 juta  pada 2001 menjadi 3,967 juta pada 2010). Data ini diperkuat laporan  Susenas bahwa prevalensi perokok usia 15-19 tahun meningkat 3 kali lipat (7 % pada 1995 menjadi 20% pada 2010). Ini berarti, 1 dari 5 remaja usia 15-19 tahun sudah merokok. Bahkan lebih dari  30 %  anak  Indonesia merokok  sebelum usia  10 tahun (Global Youth Tobacco Survey (GYTS), 2009).

    Di samping aktif merokok, ada jutaan anak di Indonesia menjadi perokok pasif akibat terpapar asap rokok. Data GYTS 2009 menyebutkan ada 78,1% anak muda terpapar asap rokok di tempat umum, dan 68,8 % lainnya terpapar asap rokok di rumah.  Yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari separuh populasi anak balita (59,1%) menjadi perokok  pasif  (Riskesdas 2007). Adapun potensi risiko dari balita yang menjadi perokok pasif adalah: 5 kali lebih besar menderita pneumonia (paru-paru akut), 2,5 kali lebih besar menderita meningitis, 1,5 kali lebih besar menderita infeksi telinga tengah,  2 kali lebih besar menderita asma, dan 3 kali lebih besar menderita kanker paru-paru. Dampak asap rokok juga menimbulkan efek berbahaya pada perkembangan otak anak –anak: yakni gangguan belajar, masalah konsentrasi, dan gangguan perilaku seperti agresif dan suka menantang(Public Health Center, Harvard School, 2007).

    Sementara itu, Hery Chariansyah, Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia  menegaskan, komitmen pemerintah untuk mengaksesi FCTC adalah wujud perlindungan pemerintah kepada anak-anak Indonesia. “Aksesi FCTC selain bertujuan mencegah anak menjadi perokok pemula,juga sebagai upaya pemenuhan hak konstitusional anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal seperti dijamin UUD 1945 Pasal 28B ayat 2,” papar Hery.

    Hal yang lebih buruk lagi, tambah Hery, bila anak-anak Indonesia terus terpapar rokok dan tidak ada komitmen pemerintah untuk melindungi mereka dari dampak rokok, maka Indonesia berpotensi tidak mendapatbonus demografi pada 2020-2030. Bonus demografi adalah situasi dimana jumlah penduduk yang produktif di suatu negara lebih banyak dari penduduk tidak produktif, yang  hanya terjadi satu kali  sepanjang sejarah sebuah negara. “Anak-anak Indonesia yang saat ini merokok dan terpapar asap rokok, pada 2020-2030 akan menjadi penduduk yang sakit-sakitan dan menjadi beban ekonomi, sehingga berpotensi mengancam bonus demografi,” tegasnya.

    Baik Hery maupun Margianta beharap, dalam peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2015 ini, pemerintah berkomitmen melindungi anak-anak Indonesia dari dampak rokok dengan cara mengaksesi FCTC. Sampai Januari 2015 sudah 187 negara  meratifikasi FCTC, menyisakan 9 negara saja, yaitu Indonesia, Andora, Eriteria, Liechtenstein, Malawi, Monako, Somalia, Republik Dominika, dan Sudan Selatan.

    DARU PRIYAMBODO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.