Inilah Mitos-mitos yang Masih Hidup di Air Terjun Sedudo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota kepolisian Nganjuk mengamankan lokasi longsoran obyek wisata air terjun Sedudo, di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan, Nganjuk, Jawa Timur, 22 Juli 2015. Longsornya tebing Air terjun Sedudo terjadi pada 21 Juli 2015, sore. TEMPO/Imam Sukamto

    Anggota kepolisian Nganjuk mengamankan lokasi longsoran obyek wisata air terjun Sedudo, di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan, Nganjuk, Jawa Timur, 22 Juli 2015. Longsornya tebing Air terjun Sedudo terjadi pada 21 Juli 2015, sore. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Nganjuk-Musibah tebing longsor di obyek wisata Air Terjun Sedudo, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk pada Selasa kemarin, 21 Juli 2015, bak mengingatkan orang pada beberapa mitos yang masih diyakini hingga sekarang. Karena mitos itulah secara turun-temurun warga Ngliman selalu mengingatkan pengunjung agar tak berbuat yang aneh-aneh.

    Mitos Air Terjun Sedudo ada yang bermakna positif dan juga sebaliknya. Salah satu mitos positif  adalah khasiat air terjun yang konon bisa membuat wajah awet muda dan menyembuhkan beragam penyakit. Khasiat ini bahkan ditulis di papan informasi  ruas jalan setapak menuju air terjun.

    Mitos awet muda inilah yang menarik minat pengunjung untuk mandi atau sekedar mencelupkan kakinya di kolam  air terjun setinggi 105 meter itu. Para pengunjung yang sebagian besar anak muda biasanya betah berendam hingga berjam-jam di kolam  tersebut. “Airnya memang segar dan membawa aura kesehatan,” kata Ristika, 42 tahun, warga Nganjuk yang mengenal tempat itu sejak kecil, Rabu, 22 Juli 2015.

    Menurut dia, sejumlah orang bahkan percaya khasiat air kolam dapat melempangkan karir  politik. Karena itu tak heran bila banyak calon anggota wakil rakyat yang melakukan ritual tertentu di  Sedudo menjelang pemilihan umum. "Mereka berharap dengan mandi di bawah air terjun Sedudo bisa memuluskan langkah menjadi anggota Dewan," katanya.

    Namun Air Terjun Sedudo juga dipercaya bisa mencelakakan pengunjung yang sengaja melanggar pantangan. Pantangan tersebut antara lain dilarang berbuat asusila di lokasi air terjun, tidak membawa pulang benda-benda temuan, tidak membawa pulang shampoo dan sabun yang dibawa dari rumah, dan dilarang berkomentar bila melihat hal tak wajar di tempat itu.

    Menurut Ristika pengunjung yang tak mematuhi pantangan itu umumnya tak berumur panjang. “Itu yang saya dengar dari para orang tua secara turun-temurun,” kata dia. Celaka yang dialami pengunjung pelanggar pantangan, kata Ristika, bisa seketika di air terjun atau saat dalam perjalanan pulang. "Namun bisa juga balak (musibah) itu datang beberapa hari setelah kunjungan."

    Dinas Pariwisata Kabupaten Nganjuk  menggelar  ritual setiap  1 Suro di air terjun. Bertema “Mandi Sedudo” ritual tahunan ini justru menjadi ikon pariwisata  karena menyedot pengunjung. Masyarakat mempercayai mandi di bulan Suro dalam air terjun Sedudo membawa banyak manfaat bagi tubuh.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RAPBN 2020, Ada 20 Persen untuk Pendidikan, 5 untuk Pendidikan

    Dalam RAPBN 2020, pembangunan Indonesia akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berikut besaran dan sasaran yang ingin dicapai.