FEATURE: Kala Muslim Menjaga Gereja  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengikuti peringatan Hari Toleransi Internasional dengan membawa atribut poster yang bertuliskan tentang pesan perdamaian di Bundaran HI, Jakarta,  16 November 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    Warga mengikuti peringatan Hari Toleransi Internasional dengan membawa atribut poster yang bertuliskan tentang pesan perdamaian di Bundaran HI, Jakarta, 16 November 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO - Kesunyian Dusun Saman, Bangunharjo Sewon, Bantul, Yogyakarta, pada Senin dinihari lalu mendadak pecah saat api menjilat pintu Gereja Baptis Indonesia Saman di Jalan Dirgantara. Muhammad Rovip, 23 tahun, tiba-tiba terjaga. "Saya tak mengira gereja terbakar, pintu rumah diketuk-ketuk tetangga dan terlihat api sudah membesar," ujar Rovip, Selasa, 22 Juli 2015. 

    Ia menuturkan, kebakaran terjadi pada Selasa dini hari, sekitar pukul 02.45 WIB. Saat itu, Rovip, yang tinggal di depan gereja tersebut, mendengar keributan. Tetangga yang juga sahabatnya, Lukman, mengabarkan bahwa gereja kecil tersebut terbakar.

    Bersama 20 warga kampung lainnya, Rovip dan Lukman bergegas menyiramkan air berember-ember ke pintu gereja yang terbakar. Setelah api padam, di pintu yang telah menghitam itu ditemukan sebuah ban motor berbau bensin. Diduga, gereja sengaja dibakar. "Ada sebuah ban kendaraan bermotor yang digantungkan di pintu gereja, diikat dengan kawat dan baunya bensin," ujar Rovip.

    Pendeta Gereja Saman, Johny Teguh Riyadi, mengatakan, saat kebakaran terjadi, gereja sedang kosong. "Tak ada orang saat gereja coba dibakar, tetangga sekitar yang memadamkan," ujarnya kemarin.

    Johny mengakui, sebelum peristiwa itu terjadi, ia sempat diprotes sejumlah organisasi masyarakat karena gereja tak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Pihaknya sempat diminta menghentikan kegiatan hingga terbitnya IMB.

    Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor DIY Ambar Anto menuturkan, pembakaran gereja di Saman bisa jadi imbas kerusuhan di Tolikara, Papua. "Peristiwa di Papua, jika tak segera diantisipasi, bisa meluas dan menjadi komoditas sejumlah kelompok yang memanfaatkan momen itu untuk membuat kekacauan di daerah," ujarnya kemarin.

    Menurut Ambar, Yogyakarta memiliki dua daerah rawan untuk membuat potensi kekacauan, seperti isu agama. Daerah yang rawan itu antara lain Kabupaten Sleman dan Bantul, yang masyarakatnya cenderung homogen.

    Kerusuhan di Tolikara juga mempengaruhi umat Nasrani di Kediri, Jawa Timur. Kepolisian Resor Kota Kediri membatasi kegiatan peribadatan umat Nasrani di luar gereja.

    Namun Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Kediri, Achmad Subakir, menganggap pengamanan polisi terlalu berlebihan. Dia menilai tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang sikap toleransi beragama di Kediri.

    Setiap peringatan Natal, NU selalu mengirimkan anggota Banser untuk membantu pengamanan gereja. “Saya rasa ini malah berlebihan,” kata Achmad.

    PRIBADI WICAKSONO | HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga