Pelancong Masih Serbu Lokasi Wisata Ciater

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kolam di pemandian air panas Cangar, Batu, Jatim, 20 Agustus 2014. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Kolam di pemandian air panas Cangar, Batu, Jatim, 20 Agustus 2014. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Subang - Para pelancong yang berkunjung ke lokasi wisata Ciater, Subang, Jawa Barat, sejak H+1 hingga H+5 pasca-Lebaran terus mengalir. Mereka berdatangan dari kota seperti Jakarta, Bandung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Sumatera plus pelancong mancanegara.

    Manajer Hubungan Masyarakat PT Sari Ater Subang Yukie Azuania, saat dihubungi Tempo, Rabu, 22 Juli 2015, mengatakan aliran pelancong yang mendatangi lokasi wisata dengan ikon air panas purba tersebut akan berlangsung hingga Sabtu dan Ahad, 25 dan 26 Juli 2015. "Bisa jadi puncaknya terjadi pada dua hari itu," kata Yukie.

    Yukie menyebutkan, selama liburan Lebaran H+1 hingga H+4, jumlah pengunjung melampaui angka 150 ribu orang. Menurut Yukie, ada kenaikan 10 persen dibanding periode sama tahun lalu.

    Ratusan hunian kamar hotel dan bungalo serta camping park yang tersedia di lokasi wisata yang mengandalkan keindahan dan keelokan alam tersebut sudah ludes disewa hingga 25 Juli 2015.

    Yukie mengungkapkan, mayoritas pengunjung Ciater masih menyerbu air panas purba. Meski begitu tak jarang turis yang berwisata petualangan semisal jip off road, gokar, flying fox, dan istana mainan.

    Seorang pengunjung asal Jakarta, Mutaqin, mengaku memanfaatkan liburan Lebaran bersama keluarganya dengan mendatangi Ciater. "Kami butuh relaksasi dengan memanfaatkan air panas alamiah," ujarnya sambil tersenyum.

    Dengan tarif masuk Rp 35 ribu dan karcis renang di kolam air panas Rp 24 ribu, dia mengaku puas. "Murah meriah dan yang terpenting menyehatkan tubuh," ujar Mutaqin.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.