Halalbihalal, Pegawai Pemkot Surabaya Pakai Baju Adat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat berkunjung ke kantor redaksi Tempo di Palmerah Jakarta Selatan. TEMPO/Ngarto Februana

    Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat berkunjung ke kantor redaksi Tempo di Palmerah Jakarta Selatan. TEMPO/Ngarto Februana

    TEMPO.CO, Surabaya - Memasuki hari pertama masuk kerja seusai libur dan cuti Lebaran, pegawai negeri sipil di kalangan pemerintahan mulai mengadakan acara halalbihalal, Rabu, 22 Juli 2015. Termasuk ratusan PNS dari berbagai SKPD, pejabat level kecamatan, kelurahan, hingga jajaran Satpol PP serta Linmas di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. Mereka antre dengan rapi di halaman Taman Surya Balai Kota Surabaya sejak pukul 07.00 pagi.

    Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tampak berdiri di atas panggung yang didesain memanjang agar memudahkan tradisi bersalaman. Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana beserta para kepala dinas turut mendampingi. "Ini sudah jadi tradisi, setiap masuk hari pertama para pegawai bersalaman dengan Bu Wali Kota (Tri Rismaharini)," kata Kepala Humas Pemerintah Kota Surabaya Muhammad Fikser saat ditemui Tempo di sela acara, Rabu.

    Uniknya, mereka menggunakan pakaian cak dan cing khas Kota Pahlawan. Para pegawai negeri yang biasanya memakai seragam ala pegawai pemerintahan, kali ini tampil berbeda. Pemandangan tersebut bak saat pemilihan cak dan ning Surabaya.

    Cak Surabaya biasanya mengenakan udeng batik poteh pancot miring warna hitam tiga tingkat lengkap dengan beskap berwarna putih gading dengan kuku macan menggantung. Bawahannya menggunakan jarik parikesit serta terompah.

    Sementara ning Surabaya mengenakan kebaya dengan selendang atau kerudung yang diberi renda-renda, dibordir dengan warna muda. Warna kebaya dan kerudung biasanya sama. Untuk bagian bawahnya, para ning menggunakan kain sarung batik pesisir beserta kemiren harus terlihat dengan tumpal pada bagian depan.

    Risma mengatakan, peraturan mengenakan pakaian adat Suroboyoan itu diberlakukan sejak April yang lalu. Sehingga setiap Rabu, mereka diwajibkan menggunakan pakaian adat khas tersebut. Tujuannya, kata Risma, agar para abdi masyarakat mencintai budaya negeri, terutama bangga terhadap jati diri sebagai arek-arek Suroboyo.

    “Ada pengaruh positif terhadap psikis, membangkitkan kebanggaan. Dan ternyata, membangkitkan sektor ekonomi, karena sekarang jadi banyak yang pesan baju cak dan ning,” tuturnya.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.