Kapolri: Tersangka Tolikara Ditetapkan Hari Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti saat memeriksa dan menandatangani sejumlah berkas di ruangannya, Mabes Polri, Jakarta, 23 April 2015. Dalam satu hari, ia bisa menerima 300 surat dari internal maupun aduan masyarakat. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti saat memeriksa dan menandatangani sejumlah berkas di ruangannya, Mabes Polri, Jakarta, 23 April 2015. Dalam satu hari, ia bisa menerima 300 surat dari internal maupun aduan masyarakat. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengatakan pemeriksaan calon tersangka pemicu kerusuhan di Tolikara, Papua, telah mengerucut. "Mudah-mudahan hari ini sudah bisa ditetapkan tersangkanya," kata Badrodin di Markas Besar Polri, Rabu, 22 Juli 2015.

    Seusai penetapan tersangka, menurut Badrodin, Kepolisian akan langsung menindak tersangka pemicu kerusuhan saat salat Idul Fitri di Distrik Karubaga, Kolitara, Papua, Jumat 17 Juli 2015. Polisi telah memeriksa 31 saksi untuk dimintai keterangan dalam peristiwa yang menewaskan satu orang dan melukai 10 orang lainnya.

    Badrodin mengatakan hari ini, Rabu, 22 Juli 2015, polisi akan memanggil lima saksi sebelum akhirnya menetapkan tersangka. "Saksi-saksi yang dipanggil berasal dari kepolisian, masyarakat, jemaah, dan panitia," ujar Jenderal Badrodin.

    Baca Juga
    Ini Kesaksian Jemaah Salat Id Korban Rusuh di Tolikara

    EKSKLUSIF: Marthen Jingga dan Nayus Akui Bikin Surat Edaran
    EKSKLUSIF: Marthen Jingga Revisi Surat Edaran, Ini Isinya

    Kerusuhan terjadi pada Jumat pagi, 17 Juli 2015, ketika puluhan orang yang diduga anggota jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) memprotes penyelenggaran jemaah salat Id di sekitar lapangan Markas Komando Rayon Militer 1702-11/Karubaga, Kabupaten Kolitara, Papua.

    Para pemrotes berdalih bahwa kepengurusan GIDI Tolikara telah mengeluarkan surat pemberitahuan agar ibadah Lebaran itu tidak dilaksanakan di daerah tersebut karena berbarengan dengan acara seminar dan kebaktian kebangunan rohani (KKR) pemuda GIDI, yang bersifat internasional.

    Protes berubah menjadi penyerangan ketika permintaan pembubaran salat Id tidak direspons aparat keamanan yang menjaga lokasi. Polisi sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Namun massa mengamuk hingga menyebabkan puluhan kios dan satu musala di sekitar lapangan habis terbakar.

    Berita Menarik:

    Profesi Ini Hasilkan Rp 2,8 Juta per Menit 

    Anak yang Diculik Hafal PGC, tapi 'Serigala' Lebih Lihai

    Tunggu, Jangan Menikah Dulu Sebelum Lihat Survei Ini

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menduga penyerangan itu berawal dari surat edaran dua anggota kepengurusanpada 11 Juli lalu. Selain memberitahukan penyelenggaraan seminar dan KKR pemuda GIDI pada 13-19 Juli 2015, surat itu berisi larangan perayaan Lebaran dan penggunaan jilbab di Tolikara.

    Menurut Badrodin, Kepala Polres dan Bupati Tolikara telah bertemu dan berkomunikasi dengan panitia seminar pada 15 Juli 2015. Dalam pertemuan itu tercapai kesepakatan untuk mencabut surat tersebut. "Makanya Kapolres dengan yakin mengatakan kepada jemaah, 'Silakan salat, dan polisi yang akan menjaga'," ucapnya. "Kurang apa lagi?"

    MOYANG KASIH DEWIMERDEKA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RAPBN 2020, Ada 20 Persen untuk Pendidikan, 5 untuk Pendidikan

    Dalam RAPBN 2020, pembangunan Indonesia akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berikut besaran dan sasaran yang ingin dicapai.