Menikah Dini Bukan Solusi Perbaikan Ekonomi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pernikahan. (google)

    Ilustrasi pernikahan. (google)

    TEMPO.CO, Padang - Susriati, 41 tahun, terlihat sedang sibuk mengasuh anaknya di sebuah rumah kayu yang terletak di kawasan Aur Kuning Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Anaknya yang bernama Zidane itu baru berusia 2 tahun.

    Zidane merupakan, anak bungsu Sustriati bersama suaminya, Masri, 51 tahun. Mereka memiliki sembilan orang anak sejak menikah tahun 1990.
    Saat itu Sustriati baru berusia 16 tahun. Ia dipaksa menikah karena tuntutan ekonomi. "Ayah yang minta saya menikah cepat, agar hidup kami berubah," ujarnya, Senin 20 Juli 2015.

    Sustriati pun mengikuti keinginan ayahnya. Ia menikah dengan Masri yang saat itu berusia 26 tahun. Masa kecilnya pun terampas. "Saat itu saya tak mengerti apa-apa. Karena masih anak-anak. Hanya menyetujui perintah orang tua saja," ujarnya.

    Sustriati tidak pernah membayangkan akan menikah di usia 16 tahun. Sebab, dia masih anak-anak. Belum layak untuk menikah dan menanggung tanggung jawab sebagai seorang istri. "Belum tahu apa-apa. Sudah disuruh menikah," ujarnya.

    Merekapun mengarungi kehidupan rumah tangga dan merantau ke Duri, Riau. Namun, setelah melahirkan anak kedua, mereka pindah ke kampungnya di kawasan Air Tabit, Kecamatan Payakumbuh Timur.

    Tiba di kampung, mereka bekerja di sebuah huller. Tinggal di tempat penggilangan padi, karena tak mampu membayar sewa rumah. Namun, mereka tetap berusaha untuk keluar dari kemiskinan. Mereka bekerja menjemur padi. Dapat upah Rp 4.000 perkarung. "Paling-paling bisa dapatkan 100 karung dalam satu bulan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.