Pengunjung Membeludak, Antrean ke Puncak Monas Padat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kawasan tugu Monas dipadati warga yang menghabiskan waktu liburan di ibu kota Jakarta, 29 Juli 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    Kawasan tugu Monas dipadati warga yang menghabiskan waktu liburan di ibu kota Jakarta, 29 Juli 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Tugu Monumen Nasional atau Monas masih menjadi daya tarik wisata bagi warga DKI Jakarta dan sekitarnya. Hal itu terbukti dengan ramainya wisatawan, baik lokal maupun asing, yang mengunjungi Tugu Monas pada libur Lebaran kali ini.

    Ada wisatawan yang sekadar piknik bersama keluarga di hamparan rumput sekitar Tugu, tak sedikit pula yang berjalan-jalan dan bermain layang-layang. Tapi, tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Monas tanpa naik hingga ke puncak tugu.

    Itulah alasan antrean pengunjung yang ingin naik ke puncak tugu mengular pada libur Lebaran, Sabtu, 18 Juli 2015. Pengelola sampai harus menata baris antrean hingga membentuk tiga baris. ”Saya sudah mengantre sekitar sejam tapi belum bisa naik ke puncak tugu,” ujar Supadi, asal Ciledug, Tangerang, Banten.

    Supadi datang ke Tugu Monas bersama istri dan dua anaknya. Warga perbatasan Jakarta-Banten ini sudah menyambangi museum yang letaknya persis di bawah tugu. Namun, usahanya menyaksikan lanskap Jakarta dari puncak tugu tak mulus. ”Masih setengah jam lagi mengantre,” kata pria 40 tahun ini.

    Lebih apes lagi nasib Erwin dan keluarganya. Warga Slipi, Jakarta Barat, ini bahkan cuma masuk melalui terowongan bawah tanah untuk beli tiket ke puncak tugu. Ironisnya, loket sudah tutup. ”Mungkin karena sudah terlalu panjang antrean ke puncak,” ujar ayah dua anak ini.

    Meski begitu, pria 36 tahun ini tak kecewa. Tugu Monas masih punya banyak area yang masih bisa dia manfaatkan untuk berekreasi. ”Mau gelar tikar di lapangan rumput dan makan bekal dari rumah bersama anak-anak,” kata Erwin.

    RAYMUNDUS RIKANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.