Rusuh Tolikara, Komnas HAM: 1 Anak Tewas, 11 Orang Luka

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi penembakan polisi

    ilustrasi penembakan polisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan beberapa fakta dalam kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, pada Jumat, 17 Juli 2015. Mereka mengungkapkan kerusuhan tersebut tak hanya pembakaran oleh jemaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) yang menghanguskan enam rumah, sebelas kios, dan satu musala, tetapi adanya penembakan yang dilakukan polisi.

    Komisioner Komnas HAM yang membidangi konflik di Papua, Natalius Pigai, mengungkapkan terdapat sebelas orang terluka dan satu anak usia sekolah dasar tewas dalam kerusuhan. Ia mengatakan korban terluka karena tembakan polisi sebelum jemaat GIDI membakar Musala Baitul Mutaqin bertepatan saat salat Idul Fitri, Jumat, 17 Juli 2015.

    "Polisi yang menghalau protes GIDI langsung melakukan penembakan kepada warga. Mereka melampiaskan amarah ke arah musala, padahal mereka marah kepada polisi karena warganya ditembak," kata Pigai saat dihubungi Tempo, Sabtu, 18 Juli 2015.

    Bentrok dipicu dari surat edaran Ketua GIDI wilayah Tolikara Pendeta Nayus Wenea dan Sekretaris GIDI Pendeta Marthe Jingga kepada umat muslim di Tolikara. Surat yang juga disampaikan ke Kepolisian Resor Tolikara dan pemerintah daerah tersebut, berisi larangan umat Islam merayakan Idul Fitri di Karubaga, Tolikara. Mereka juga meminta umat Islam tak berjilbab. Pada surat edaran yang sama, Nayus menjelaskan pihaknya juga melarang pemeluk agama mendirikan tempat ibadah di Tolikara.

    "Gereja Adven di Distrik Paido juga ditutup. Itu kerap terjadi di Tolikara. Mereka menutup tempat gereja lain," kata Pigai.

    Surat tersebut ditembuskan ke kepolisian resor dan pemerintah daerah Tolikara beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Namun, Jumat lalu masyarakat muslim Tolikara tetap menggelar salat Idul Fitri dan mengumandangkan takbir dengan pengeras suara, di lapangan Makoramil 1702/ Karubaga. Lapangan tersebut berdekatan dengan penyelenggaraan KKR jemaat GIDI.

    Pigai mengatakan jemaat GIDI langsung marah dan memprotes polisi yang berjaga di sekitar lapangan. "Mereka protes karena sudah memberi imbauan, kemudian polisi balik menembak warga," kata Pigai.

    Karena kerusuhan itu, kemudian jemaat GIDI mulai melemparkan batu ke kios dan Musala Baitul Mutaqin. Mereka juga membakar beberapa rumah, kios, dan musala itu.

    "Masyarakat melampiaskan kemarahan ke arah musala. Kalau polisi tidak menembaki warga, pasti reaksi mereka berbeda," kata Pigai.

    Peristiwa itu terjadi pukul 07.30 WIT. Saat pembakaran terjadi, seluruh jemaah salat Idul Fitri membubarkan diri. Warga diungsikan ke Koramil 1702/s. Hingga kini Komnas HAM, Kementerian Agama, dan kepolisian Papua masih mengusut kasus ini.

    PUTRI ADITYOWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.