Rusuh Tolikara, Ini Kronologi Temuan Komnas HAM

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kerusuhan. AFP PHOTO / ANDREAS SOLARO

    Ilustrasi kerusuhan. AFP PHOTO / ANDREAS SOLARO

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mengungkapkan kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, bukan semata-mata konflik agama antara umat Islam dan Kristen Gereja Injil di Indonesia (GIDI). Ia mengatakan konflik tersebut juga dipicu penembakan warga GIDI oleh polisi.

    "Ada isu yang keliru, seolah masyarakat GIDI memusuhi Islam. Padahal, mereka tak merencanakan bakar masjid. Masyarakat marah karena polisi menembak warga," kata Pigai saat dihubungi Tempo, Sabtu, 18 Juli 2015.

    Awalnya, pada 11 Juli 2015, Ketua GIDI wilayah Tolikara Pendeta Nayus Wenea dan Sekretaris GIDI Pendeta Marthe Jingga melayangkan surat imbauan kepada umat Islam di Tolikara. Nayus meminta masyarakat muslim menyelenggarakan perayaan Idul Fitri pada 17 Juli 2015 di Karubaga Tolikara. Muslim hanya boleh menggelar salat Idul Fitri di luar wilayah itu karena pada 13-19 Juli 2015 GIDI menyelenggarakan seminar dan KKR pemuda GIDI tingkat internasional.

    "Mereka meminta agar muslim mengecilkan (suara) speaker karena kegiatannya bersebelahan dengan penyelenggaraan KKR," kata Pigai. Jemaat GIDI juga meminta muslim tak menggunakan jilbab.

    Meski ditujukan untuk umat muslim, pada surat itu GIDI menjelaskan pelarangan peribadatan agama lain dan gereja Denominasi lain. Mereka melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah di Tolikara.

    "Dan Gereja Adven di Distrik Paido sudah ditutup. Itu sudah banyak terjadi di Tolikara. Mereka menutup tempat gereja lain," kata Pigai.

    (Baca: http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/18/078684731/rusuh-tolikara-ketua-sinode-gdi-minta-maaf)

    (Baca:http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/18/078684720/bentrok-di-tolikara-begini-langkah-menteri-lukman-memediasi )

    Surat imbauan ditembuskan ke Kepolisian Resor dan Pemerintah Daerah Tolikara beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Namun, Jumat lalu masyarakat muslim Tolikara tetap menggelar salat Idul Fitri dan mengumandangkan takbir dengan pengeras suara di lapangan Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702/Karubaga. Lapangan tersebut berdekatan dengan penyelenggaraan KKR jemaat GIDI.

    Pigai mengatakan jemaat GIDI langsung marah dan memprotes polisi yang berjaga di sekitar lapangan. "Mereka protes karena sudah memberi imbauan, kemudian polisi balik menembak warga," kata Pigai. 

    Karena kerusuhan itu, kemudian jemaat GIDI mulai melemparkan batu ke arah kios dan Musala Baitul Mutaqin. Mereka juga membakar beberapa rumah, kios, dan musala itu. "Masyarakat melampiaskan kemarahan ke arah musala. Kalau polisi tidak menembaki warga, pasti reaksi mereka berbeda," kata Pigai.

    Peristiwa itu terjadi pada pukul 07.30 WIT. Saat pembakaran terjadi, seluruh jemaah salat Idul Fitri membubarkan diri. Warga diungsikan ke Koramil 1702/s. Hingga kini Komnas HAM, Kementerian Agama, dan kepolisian Papua masih mengusut kasus ini.

    PUTRI ADITYOWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.