WNI di Malaysia Mudik, Bandara Kuala Lumpur Padat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menunggu kedatangan kerabatnya yang pulang dari mudik di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, 3 Agustus 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Warga menunggu kedatangan kerabatnya yang pulang dari mudik di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, 3 Agustus 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur - Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Herman Prayitno, membenarkan ada lonjakan penumpang asal Indonesia di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) dan Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA-2) sejak sehari sebelum Lebaran, Kamis, 16 Juli 2015.

    Site Manager Garuda Kantor Cabang Malaysia, Lion Air dan Malindo, kata Herman, juga melaporkan bahwa jumlah penumpang tujuan Indonesia meningkat signifikan selama bulan Ramadan. "Jumlah kursi yang terjual antara 85 – 95 persen," kata Herman dalam rilis KBRI Kuala Lumpur yang diterima Tempo, Jumat, 17 Juli 2015.

    Untuk memantau arus mudik, Dubes Herman sengaja  mengunjungi konter Garuda di KLIA, Lion Air dan Malindo di KLIA 2. Dia berbicara langsung dengan beberapa WNI yang sedang mengantre untuk check in penerbangan.

    Sebagian besar WNI yang menggunakan Garuda, Lion Air dan Malindo untuk pulang ke Indonesia adalah pekerja, mahasiswa, dan pelancong.

    Muhammad Iqbal, seorang pekerja di sektor konstruksi di Kuala Lumpur, mengaku dibayar 100 ringgit (Rp 352 ribu) per hari selama setahun bekerja di Malaysia. Dari upah yang diperolehnya, Iqbal dapat menyisihkan 1.000-1.500 ringgit (sekitar Rp 3-5 juta) per bulan untuk dikirim pulang.

    Kepada para WNI, Dubes Herman berpesan untuk bekerja di Malaysia secara legal dengan dokumen yang lengkap agar tidak terjadi masalah atau bahkan dirugikan. Jika menemui kesulitan WNI diharapkan melaporkan kepada KBRI untuk diberikan pelayanan dan perlindungan.

    NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.