Lebaran, Arus Mudik di Nagreg Masih Tinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kendaraan melintasi jalur satu arah di turunan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 21 Juli 2014. Pada H-7 lebaran, jalur mudik turunan Nagreg menuju Garut, Tasikmalaya, dan Jawa Tengah, berlaku satu arah, sedangkan kendaraan dari arah sebaliknya harus melewati Lingkar Nagreg. TEMPO/Prima Mulia

    Kendaraan melintasi jalur satu arah di turunan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 21 Juli 2014. Pada H-7 lebaran, jalur mudik turunan Nagreg menuju Garut, Tasikmalaya, dan Jawa Tengah, berlaku satu arah, sedangkan kendaraan dari arah sebaliknya harus melewati Lingkar Nagreg. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Arus mudik Lebaran pada Jumat, 17 Juli 2015, di jalur selatan terpantau padat merayap. Tepat di pertigaan jalan Cagak, Nagreg, Kabupaten Bandung, kendaraan roda dua dan roda empat dari arah barat menuju timur cukup padat.

    Volume kendaraan dari arah Bandung menuju Tasikmalaya dan Garut mengalami peningkatan. Berdasarkan pantauan Tempo, sekitar pukul 13.00, kondisi jalanan mulai banyak disantroni para pemudik. Hingga pukul 15.00, baik jalur selatan via Limbangan mau pun melalui Kadungora, Garut, arus lalu lintas sama-sama macet.
    Buntut kemacetan di sekitar perbatasan Jalan Cicalengka menuju Nagreg. Sementara itu sampul kemacetan ada di pasar Limbangan, Garut. Terlihat beberapa polisi mengamankan pertigaan jalan Cagak.

    Namun hingga pukul 15.00, polisi belum juga menerapkan rekayasa lalu lintas dengan sistem buka tutup (one way) yang biasanya diterapkan di kala kondisi arus mudik jalur selatan, Nagreg macet.

    Melihat kondisi itu, pedagang asongan mulai tumpah ruah menuju jalan. Mereka menjajakan dagangannya kepada para pemudik yang melintasi jalur itu. Sesekali pemudik yang menggunakan kendaraan roda empat melakukan transaksi dengan para pedagang asongan, hanya untuk membeli air mineral atau makanan ringan.

    Salah satu pedagang asongan, Yana, 35 tahun mengatakan dagangannya cukup laris. Namun dari segi penghasilan, jauh dari Lebaran tahun sebelumnya. "Kalau dibandingkan dengan tahun kemarin jauh ya," katanya kepada Tempo, Jumat (17/7).

    Pada musim mudik tahun sebelumnya, kata Yana, dia meraup keuntungan sekitar Rp 300 ribu per hari, namun untuk kali ini dia hanya mampu mengantongi untung sekitar Rp 150 ribu. "Aduh peureus (sakit) untuk tahun sekarang mah," ujarnya.

    Meski begitu, Yana optimis barang dagangannya akan tetap laku. Pasalnya, dia memprediksi untuk esok hari, yakni H+1 Lebaran, kemacetan bakal lebih parah lagi. "Dilihat dari tahun sebelumnya, besok pasti lebih macet," kata dia.

    Berdasarkan data harian Operasi Ketupat Lodaya 2015, volume kendaraan yang melintasi jalur Nagreg dari barat menuju timur meningkat 6,72 persen dari tahun sebelumnya. Dari pukul 06.00 pada H-1 hingga pukul 06.00 pada hari H, total kendaraan yang melintasi jalur Nagreg, sebanyak 104.480 unit.

    AMINUDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.