Antisipasi Kecelakaan, Supir Bus di Bangkalan di Tes Urine

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan pemudik yang menggunakan motor antri di pintu tol akses Jembatan Suramadu, Surabaya, 26 Juli 2014. TEMPO/Fully Syafi

    Ribuan pemudik yang menggunakan motor antri di pintu tol akses Jembatan Suramadu, Surabaya, 26 Juli 2014. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO , Bangkalan: Aparat Rerserse Narkoba dan Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Bangkalan, Jawa Timur, menggelar tes urine kepada supir bus dan angkutan umum yang melintas di Jembatan Suramadu, Rabu, 15 Juli 2015.

    Satu persatu supir bus yang melintas dari arah Kota Surabaya distop dan diminta langsung menuju pos pemantau arus mudik di Rest Area Suramadu, tempat tes urine dipusatkan. Sebelum menjalani tes urine, para supir diperiksa tensi darah lebih dahulu oleh petugas dari Dinas Kesehatan Bangkalan, setelah itu baru diminta melakukan tes urine.

    Para supir juga diberi multivitamin penambah tenaga. "Ada 8 supir diperiksa, sejauh ini hasil negatif narkoba," kata Kepala Polres Bangkalan, Ajun Komisaris Besar Windiyanto Pratomo, Rabu, 15 Juli 2015.

    Menurut Windiyanto, pemeriksaan kesehatan supir penting digelar untuk menekan terjadi kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan balik Lebaran 2015 di Bangkalan. Apalagi,  akses Suramadu sepanjang 15 kilometer dikenal paling rawan terjadi kecelakaan. "Tapi sejauh ini terkendali, tidak ada kecelakaan yang menonjol."

    Dihubungi terpisah, Kepala Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Bangkalan, Ajun Komisaris Hery Kusnanto mengatakan  pada Lebaran tahun lalu, ditemukan seorang supir positif memakai narkoba dari hasil tes urine di Suramadu. "Kalau ada yang positif, kita lakukan pembinaan saja, kemudian dilarang menyupir dan digantikan supir cadangan," katanya.

    Sapto salah satu supir yang diperiksa mengaku kaget. Namun dia meminta waktu pemeriksaan tes urine dipercepat agar tidak menghambat jadwal tiba bus. "Alhamdulilah negatif, karena saya jangankan narkoba, merokok pun saya tidak," ucapnya.  

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.