Rumah Ini Berdiri di Tengah Tol Darurat Pejagan-Brebes Timur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah rumah milik Rojiun yang terletak ditengah jalur Tol Darurat Pejagan-Brebes Timur di Desa Rancawuluh, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, 15 Juli 2015. Rojiun dan pengembang belum mencapai kesepakatan dalam harga ganti untung pembebasan tanah dan bangunan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Sebuah rumah milik Rojiun yang terletak ditengah jalur Tol Darurat Pejagan-Brebes Timur di Desa Rancawuluh, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, 15 Juli 2015. Rojiun dan pengembang belum mencapai kesepakatan dalam harga ganti untung pembebasan tanah dan bangunan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO , Brebes : Ingatkah Anda dengan rumah lima lantai milik Luo Baogan yang kokoh berdiri di tengah jalan raya di Wenling, Provinsi Zhejiang, Cina. Ternyata fenomena serupa bisa Anda jumpai saat melintas di Tol Darurat Pejagan-Brebes Timur, Jawa Tengah.

    Ada satu rumah milik Rojiun, warga Desa Rancawuluh RT 01 RW 06, Kecamatan Bulakamba, Brebes, yang masih berdiri kokoh di tengah jalur tol sepanjang 20 kilometer itu yang masih penuh debu. Rumah model limasan itu satu-satunya bangunan yang belum berhasil dibebaskan oleh pengembang jalan tol.

    “Harga ganti untung belum cocok,” kata Juli Setyawan, 25 tahun, putra Rojiun saat ditemui Tempo di rumahnya, Rabu, 15 Juli 2015.

    Mulanya, cerita Juli, pemerintah memulai proyek jalan tol pada 2008. Saat itu, harga ganti untung yang ditawarkan untuk satu meter persegi tanah non sawah sebesar  Rp 90 ribu. Nominal itu dianggap terlalu rendah. Ayahnya, kata Juli, bersikukuh tak mau melepas tanah dan bangunannya bila harga terlampau murah.

    Sementara, tetangga mereka mau menjual tanahnya akibat isu yang dihembuskan oleh oknum proyek. Aksi itu menimbulkan kekhawatiran di tengah warga bila skenario pembelian lahan menemui jalan buntu. “Tatangga saya ditakut-takuti bakal dibeli lebih murah bila tak kunjung dilepas,” ujar Juli.

    Toh, upaya menghembuskan isu itu tak mempan. Kata Juli, ayahnya tak bergeming karena harga ganti untung tak masuk akal. “Kami minta ganti untung tanah dan bangunan seluas 700 meter persegi senilai Rp 1,5 miliar dan bisa negosiasi,” dia menambahkan.

    Nominal itu, Juli berujar, sangat wajar. Sebab, pembayaran dengan harga tersebut tak hanya mencakup ganti untung tanah dan bangunan. Tapi termasuk kompensasi tutupnya toko material yang dirintis ayahnya akibat jalur utama ke rumah itu sudah tertutup tembok beton terowongan.

    Hingga kini, kata Juli, negosiasi masih buntu. Tak mengherankan saat pemerintah membuka Tol Pejagan-Brebes Timur yang sebenarnya belum rampung, rumah Rojiun masih kokoh berdiri. Akibatnya, jalan beralaskan tanah pasir dan kerikil yang awalnya lurus menjadi bercabang dua sekitar 200 meter sebelum rumah Rojiun.

    Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, bahkan memberi atensi khusus pada rumah Rojiun. Menurut dia, rumah di tengah jalur tol itu menjadi fenomena unik bagi pemudik saat tol darurat itu dibuka. “Saya pantau dari helikopter memang kendaraan melambat menjelang rumah di tengah tol itu,” dia berujar.

    RAYMUNDUS RIKANG


     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.