Pemuda Muhammadiyah Desak Jokowi dan Kapolri Copot Budi Waseso

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Infografis

    Infografis "Kontroversi Budi Waseso". (Grafis: Unay)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah membela Ahmad Syafii Maarif, yang dipojokkan oleh Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI Komisaris Jenderal Budi Waseso terkait dengan kriminalisasi sejumlah tokoh antikorupsi. Seperti Buya, mereka mendesak Presiden Joko Widodo mencopot Budi Waseso.

    "Selama menjadi Kabareskrim, Budi Waseso telah mengkriminalkan aktivis antikorupsi dan penegak hukum yang melawan korupsi," kata Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak dalam keterangan tertulis, Rabu, 15 Juli 2015. (Tonton: Syafii Maarif: ''Copot Budi Waseso Sebagai Kabareskrim'')

    Dahnil mengatakan desakan itu memuncak ketika Budi Waseso menganggap kritikan Buya sebagai tindakan ikut campur terhadap penegakan hukum. Sebelumnya, Buya Maarif meminta Jokowi melalui Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti mencopot anggota Polri yang mudah menetapkan orang sebagai tersangka. Polisi yang dimaksud adalah Budi Waseso. Kritikan Buya terkait dengan penetapan tersangka Ketua Komisi Yudisial Suparman Marzuki dan Komisioner KY, Taufiqurrahman Sahuri, oleh kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik hakim Sarpin Rizaldi. (Baca: Budi Waseso: Buya Syafii Jangan Campuri Hukum)

    Budi menuding Buya tak paham hukum karena meminta Presiden mencopot aparat penegak hukum. "Enggak usah berkomentarlah kalau tidak mengerti penegakan hukum," kata Budi Waseso di Bareskrim, Selasa, 14 Juli 2015. "Beliau kan bukan orang bodoh, pasti mengerti mana yang benar, mana yang salah."

    Menurut Dahnil, reaksi Budi kepada Syafii merupakan penghinaan terhadap Muhammadiyah. Budi dianggap tak menghargai usul mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu. "Ia tidak perlu bereaksi tidak etis terhadap Buya Syafii," kata Dahnil.(Baca: KY Minta Tolong Jokowi, Budi Waseso: Kok, Ketakutan?)

    "Penghinaan itu telah menyakiti hati warga Muhammadiyah dan kelompok masyarakat lain. Oleh sebab itu, kami mendesak Presiden dan Kapolri untuk mencopot Kabareskrim," kata Dahnil.

    PUTRI ADITYOWATI | DEWI SUCI

    Baca juga:
    Duh, Ditangkap, Vitalia Malah Foto Sama Kapolsek: Ada apa? 
    Ditahan KPK, OC Kaligis Bicara Soal Gubernur & Suap Hakim


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.