Kisah Heroik Pemudik: Tak Dapat Bus, Truk pun Jadi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemudik yang menggunakan kendaraan bak terbuka antre saat akan memasuki Gerbang Tol Cikopo, Purwakarta, 14 Juli 2015. Sore ini antrean kendaraan pemudik yang akan melintasi Tol Cipali (Cikopo-Palimanan) mengular hingga 3 Km. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Pemudik yang menggunakan kendaraan bak terbuka antre saat akan memasuki Gerbang Tol Cikopo, Purwakarta, 14 Juli 2015. Sore ini antrean kendaraan pemudik yang akan melintasi Tol Cipali (Cikopo-Palimanan) mengular hingga 3 Km. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Palimanan - Pulang ke kampung saat Lebaran alias mudik bagi sebagian besar orang merupakan momen yang dinanti tiap tahunnya. Tak heran, segala persiapan dilakukan jauh-jauh hari. Mulai dari berburu tiket perjalanan hingga belanja pakaian baru. Namun tak semua orang bisa seberuntung itu menyiapkan rencana mudiknya.

    Ada saja orang yang tak pernah punya kesempatan merancang perjalanan mudik dengan baik. Pariyun contohnya. Dia tak bisa memesan tiket bus atau kereta jauh-jauh hari sebelum Lebaran. Alasannya, bos di pabriknya baru mengumumkan waktu libur tiga hari sebelum Lebaran.

    Pariyun menghadapi dilema. Dia memang mendapat jatah libur hingga Rabu, 22 Juli. Namun kepastian libur yang mepet membuat harga tiket bus ke kampungnya di Purwakarta sudah melambung tinggi. Kata dia, harga tiket bisa menembus Rp 300 ribu sekali jalan.

    “Saya harus putar otak biar tetap bisa mudik ke kampung,” ujar pria 40 tahun itu saat ditemui di Rest Area 166 Tol Cikopo-Palimanan, Selasa, 13 Juli 2015.

    Toh, Pariyun tak kehabisan akal. Tempat kerjanya di Petukangan, Jakarta Utara, bergerak di sektor pengangkutan logistik. Itu berarti kantornya punya banyak truk bak terbuka. “Saya beranikan diri pinjam truk ke bos untuk mudik,” kata Pariyun.

    Gayung bersambut. Bosnya mengizinkan satu truk boleh dipakai untuk mudik ke Purwakarta. Tak sampai setengah hari, dia berujar, bak terbuka truk berwarna hijau itu disulapnya menjadi angkutan mudik.

    Dua lapis plastik terpal dia tambahkan di bak truk. Plastik itu dia bentuk mirip tenda kemah dengan rangka kayu berbentuk segitiga. Agar alas duduk tak keras, Pariyun menggelar kardus coklat sebagai alas duduk. Jadilah kendaraan mudik yang diklaimnya amat nyaman. “Murah meriah pula,” Pariyun menambahkan.

    Dalam truk itu, Pariyun mengajak sembilan orang kawannya yang juga berasal dari Purwakarta. Ditambah istri dan anaknya, total ada 12 orang yang menumpang di truk mudik ala Pariyun. Tiga orang duduk di kabin truk, sisanya lesehan di bak truk yang sudah ditambahi tenda plastik. “Ongkos bensinnya, kami urunan,” dia berujar.

    Tak beda jauh nasib Hariyadi dengan Pariyun. Pria 44 tahun itu juga menyulap mobil pick-up Suzuki Carry menjadi angkutan mudik untuk keluarganya. Padahal, sehari-hari mobil itu dipakai untuk mengangkut gas elpiji. Mobil itu ditambah terpal biru dengan rangka besi, sehingga membentuk semacam kanopi.

    Hariyadi menata kardus dan tas pakaian di dekat kabin mobil. Selebihnya, dua kasur busa dia tata agar tempat duduknya empuk. “Lumayan ini bisa tampung delapan orang,” kata dia.

    Uniknya, tradisi mudik dengan menyulap mobil pick-up menjadi angkutan mudik tak kali ini saja dia lakukan. Dia sudah bertahun-tahun mudik dengan cara seperti itu. Meski, dia sadar cara yang dia tempuh sangat berbahaya. “Saya tak punya uang kalau harus membeli tiket bus atau kereta untuk anak-anak dan istri,” tutur Hariyadi.

    RAYMUNDUS RIKANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.